Sumsel

BI Prediksi Inflasi Sumsel Menguat pada Agustus, Kemarau dan HUT RI Jadi Pemicu

Kurnia | 5 Agustus 2026, 21:00 WIB
BI Prediksi Inflasi Sumsel Menguat pada Agustus, Kemarau dan HUT RI Jadi Pemicu

AKURAT.CO SUMSEL Setelah mencatat deflasi pada Juli 2026, Sumatera Selatan diperkirakan akan menghadapi peningkatan tekanan inflasi pada Agustus.

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumsel memperkirakan musim kemarau yang semakin kering serta meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia akan menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga.

Kepala Perwakilan BI Sumsel, Bambang Pramono, mengatakan pada Juli 2026 Sumsel mengalami deflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month-to-month). Kondisi tersebut terutama dipengaruhi melimpahnya pasokan komoditas hortikultura akibat musim panen di sejumlah daerah sentra produksi.

"Pasokan bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan tomat meningkat selama masa panen sehingga harga di pasar mengalami penurunan," ujar Bambang, Rabu (5/8/2026).

Baca Juga: Merasa Nama Baiknya Dicemarkan di Instagram, Remaja Putri di Palembang Lapor Polisi

Selain harga sayuran yang melemah, penurunan harga emas perhiasan juga turut memberikan andil terhadap terjadinya deflasi pada bulan lalu.

Meski demikian, Bambang menilai kondisi tersebut diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Pada Agustus, tekanan inflasi diproyeksikan mulai meningkat seiring naiknya permintaan masyarakat terhadap berbagai kebutuhan pangan dan jasa.

Momentum perayaan HUT Kemerdekaan RI diperkirakan akan mendorong konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, cuaca yang lebih kering dengan curah hujan rendah berpotensi mengurangi produksi komoditas hortikultura sehingga dapat memicu kenaikan harga di tingkat pasar.

"Musim kemarau berpotensi mengganggu produksi hortikultura. Jika pasokan berkurang sementara permintaan meningkat, harga pangan bisa mengalami kenaikan," jelasnya.

Selain itu, BI juga mencatat permintaan terhadap sejumlah bahan pangan seperti beras dan bawang putih mulai meningkat. Kondisi tersebut dipengaruhi kembali berjalannya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru, yang turut mendorong konsumsi rumah tangga dan sektor pendidikan.

Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel terus memperkuat berbagai langkah pengendalian melalui strategi empat pilar, yaitu menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi kepada masyarakat.

Hingga akhir Juli 2026, TPID bersama pemerintah daerah telah melaksanakan lebih dari 381 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), serta Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Berbagai inspeksi pasar juga dilakukan guna memastikan stok pangan tetap tersedia dan harga sesuai ketentuan.

Di bidang distribusi, pemerintah memberikan subsidi ongkos angkut dan subsidi harga agar pasokan pangan tetap lancar. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, sebanyak 77 kali penyaluran subsidi ongkos angkut telah dilakukan dengan total distribusi hampir 48 ton komoditas pangan.

Sementara itu, BI Sumsel juga memperkuat pasokan melalui kerja sama antardaerah. Pengadaan bawang merah dari Sumatera Barat dan cabai dari Kabupaten Magelang dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok, disertai penambahan sejumlah kesepakatan kerja sama antarwilayah guna memperkuat rantai pasok pangan di Sumatera Selatan.

Dengan berbagai langkah tersebut, BI berharap tekanan inflasi selama musim kemarau tetap dapat dikendalikan sehingga daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia