Sumsel

Waspada! Risiko Karhutla di Sumsel Diprediksi Meningkat Sepekan ke Depan, Personel dan Patroli Ditambah

Kurnia | 9 Juli 2026, 16:30 WIB
Waspada! Risiko Karhutla di Sumsel Diprediksi Meningkat Sepekan ke Depan, Personel dan Patroli Ditambah
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan diperkirakan meningkat dalam sepekan ke depan seiring memburuknya kondisi bahan bakar alami di permukaan lahan yang semakin mudah terbakar.

Mengantisipasi hal tersebut, Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan Wilayah Sumatera menyiagakan tambahan personel di sejumlah wilayah rawan serta meningkatkan intensitas patroli darat maupun udara.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan peningkatan risiko karhutla terdeteksi melalui indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) milik BMKG yang menunjukkan kondisi merah atau tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.

"Prediksi dalam sepekan ke depan menunjukkan potensi kejadian kebakaran meningkat di sejumlah wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Selatan," ujar Ferdian, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga: Video Diduga Aksi Tak Senonoh di Kawasan Jakabaring Viral, Polisi Lakukan Penelusuran

Sebagai langkah antisipasi, petugas tambahan akan ditempatkan di wilayah sekitar Indralaya yang selama ini menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian khusus saat musim kemarau.

Selain itu, patroli rutin juga akan diperbanyak di titik-titik yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap munculnya titik api.

FFMC sendiri merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kekeringan bahan-bahan ringan di permukaan tanah seperti daun kering, rumput, semak, hingga lapisan humus tipis yang mudah terbakar saat cuaca panas dan minim hujan.

Sementara untuk wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), upaya pencegahan dilakukan melalui penguatan koordinasi dengan perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri yang beroperasi di kawasan tersebut.

Informasi mengenai titik panas maupun hasil patroli udara akan segera diteruskan kepada perusahaan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas.

Meski kondisi cuaca menjadi faktor pendukung meningkatnya risiko kebakaran, Ferdian menegaskan sebagian besar kejadian karhutla tetap dipicu oleh aktivitas manusia, baik karena unsur kesengajaan maupun kelalaian.

Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, pembakaran sampah, hingga membuang puntung rokok di lahan gambut yang kering masih menjadi penyebab utama munculnya kebakaran di sejumlah daerah.

Menurutnya, cuaca dan kondisi alam hanya memperbesar potensi penyebaran api. Sementara sumber pemicunya sebagian besar berasal dari aktivitas manusia yang tidak memperhatikan risiko di sekitarnya.

Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau serta menghindari segala aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan lahan gambut dan area yang dipenuhi vegetasi kering.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia