Sumsel

Inflasi Tahunan Sumsel 2,89 Persen, Masuk Empat Provinsi Terendah di Indonesia

Kurnia | 2 Juli 2026, 12:00 WIB
Inflasi Tahunan Sumsel 2,89 Persen, Masuk Empat Provinsi Terendah di Indonesia
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Laju inflasi tahunan atau year on year (yoy) di Sumatera Selatan (Sumsel) pada Juni 2026 tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Sumsel sebesar 2,89 persen, sementara inflasi nasional mencapai 3,44 persen.

Dengan capaian tersebut, Sumsel masuk dalam empat provinsi dengan tingkat inflasi tahunan terendah di Indonesia.

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengatakan tren inflasi di Sumsel terus menunjukkan perlambatan. Secara bulanan atau month to month (mtm), inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 0,36 persen, turun dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di kisaran 0,6 persen.

"Inflasi Sumatera Selatan relatif lebih rendah dibandingkan nasional. Secara bulanan juga mengalami penurunan, dan secara tahunan kita berada di empat provinsi dengan inflasi terendah," ujarnya.

Menurut Wahyu, perlambatan inflasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya penurunan harga sejumlah komoditas pangan, terutama daging ayam ras dan telur ayam ras.

Baca Juga: Laba BPJS Kesehatan Melonjak 157 Persen pada 2025, Ini Faktor Pendorongnya

Berdasarkan hasil pemantauan BPS dalam dua pekan terakhir, pasokan bahan pangan di berbagai pasar tradisional di Sumsel berada dalam kondisi melimpah. Di sisi lain, permintaan terhadap komoditas tersebut mengalami penurunan sehingga harga ikut terkoreksi.

Salah satu penyebab menurunnya permintaan adalah berkurangnya kebutuhan bahan pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Pasokan pangan cukup melimpah, sementara permintaan untuk kebutuhan MBG sedang berkurang. Kondisi ini membuat harga daging ayam ras dan telur ayam ras mengalami penurunan," kata Wahyu.

Meski belum menghitung secara rinci besaran pengaruh Program MBG terhadap inflasi, BPS menilai perubahan permintaan dari program tersebut turut memengaruhi pergerakan harga pangan di pasaran.

Sebelumnya, program tersebut meningkatkan permintaan terhadap sejumlah komoditas. Namun ketika kebutuhan mulai menurun sementara pasokan tetap tinggi, harga komoditas ikut mengalami penyesuaian.

Selain faktor pangan, inflasi juga dipengaruhi oleh kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM). Dalam kebijakan terbaru, harga solar untuk kelompok tertentu mengalami penurunan, sedangkan harga Pertamax mengalami kenaikan.

BPS juga mencatat fenomena El Nino mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi dan distribusi sejumlah komoditas di beberapa wilayah. Meski demikian, hingga Juni 2026 tekanan inflasi di Sumsel masih dapat dikendalikan dan berada di bawah rata-rata nasional.

Capaian tersebut menunjukkan stabilitas harga di Sumatera Selatan masih terjaga, didukung oleh pasokan pangan yang memadai serta terkendalinya tekanan harga pada sejumlah komoditas utama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia