Sumsel

BPBD Catat 101 Bencana Terjadi di Sumsel Sepanjang 2026, Banjir dan Angin Kencang Paling Dominan

Kurnia | 1 Agustus 2026, 19:00 WIB
BPBD Catat 101 Bencana Terjadi di Sumsel Sepanjang 2026, Banjir dan Angin Kencang Paling Dominan
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mencatat sebanyak 101 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah provinsi ini selama periode 1 Januari hingga 30 Juli 2026. Banjir dan angin kencang menjadi jenis bencana yang paling sering melanda.

Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Iqbal Alisyahbana, mengatakan masing-masing bencana banjir dan angin kencang tercatat sebanyak 33 kejadian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi masih menjadi ancaman utama di Sumatera Selatan.

"Dominasi bencana hidrometeorologi menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem," ujar Iqbal, Sabtu (1/8/2026).

Selain banjir dan angin kencang, BPBD juga mencatat 17 kejadian tanah longsor, 12 kebakaran permukiman, empat banjir bandang, serta dua kejadian angin puting beliung.

Baca Juga: BPBD Sumsel Berikan Bantuan Gubernur Herman Deru Ke Korban Bencana Kebakaran Empat Lawang

Dari sisi wilayah, Kabupaten Ogan Ilir menjadi daerah dengan jumlah kejadian bencana terbanyak, yakni 19 kejadian.

Posisi berikutnya ditempati Kabupaten OKU Selatan dengan 12 kejadian, disusul Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muara Enim yang masing-masing mencatat 10 kejadian. Sementara Kota Prabumulih mengalami sembilan kejadian bencana.

Beberapa daerah lain juga terdampak, di antaranya Kabupaten OKU dengan tujuh kejadian, Banyuasin enam kejadian, PALI lima kejadian, Musi Rawas dan Kota Pagar Alam masing-masing empat kejadian, serta Palembang, Lahat, dan Empat Lawang yang masing-masing mengalami tiga kejadian.

Dampak yang ditimbulkan dari berbagai bencana tersebut juga cukup besar. BPBD mencatat sebanyak 43.770 rumah terendam banjir. Selain itu, terdapat 125 rumah mengalami kerusakan berat, 66 rumah rusak sedang, dan 39 rumah rusak ringan.

Tidak hanya permukiman, sektor pertanian juga terdampak. Sekitar 4.910 hektare lahan sawah dan 1.395 hektare kebun dilaporkan mengalami kerusakan akibat bencana yang terjadi di sejumlah daerah.

Dari sisi sosial, sebanyak 43.747 kepala keluarga terdampak langsung, sementara 607 kepala keluarga harus mengungsi. BPBD juga mencatat adanya korban jiwa dalam sejumlah peristiwa bencana selama tujuh bulan pertama tahun ini.

Memasuki puncak musim kemarau, BPBD memperkirakan potensi bencana mulai bergeser dari banjir menuju kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang memiliki kawasan lahan gambut.

BPBD Sumsel juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, memperbarui informasi kebencanaan, serta mengedukasi masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia