Sumsel

Perang AS Iran Terkini: Selat Hormuz dan Laut Merah Ditutup, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Tajam

Septiyanti Dwi Cahyani | 23 Juli 2026, 11:32 WIB
Perang AS Iran Terkini: Selat Hormuz dan Laut Merah Ditutup, Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak Tajam
Ilustrasi Selat Hormuz.

AKURAT.CO SUMSEL - Genap 12 hari sudah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan beruntun terhadap Iran.

Konflik di Timur Tengah semakin membara, memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.

Berikut rangkuman perkembangan terbaru perang AS Iran hingga Kamis, 23 Juli 2026.

Baca Juga: Kenapa Motor Dilarang Masuk Jalan Tol di Indonesia? Ternyata Ini Alasan Utamanya, Bukan Sekadar Aturan

1. Harga Minyak Mentah Dunia Melonjak

Pasar energi dunia kembali membara setelah harga minyak mentah melonjak lebih dari 1,5% hingga menyentuh level tertinggi dalam enam minggu terakhir pada perdagangan Kamis (23/7/2026).

Lonjakan tajam ini dipicu oleh eskalasi militer masif, di mana militer Amerika Serikat (AS) meluncurkan gelombang serangan udara selama 12 malam secara berturut-turut ke wilayah Iran.

Harga minyak Brent yang menjadi patokan global melonjak USD1,93 yang setara dengan 2% ke level USD96,00 per barel.

Baca Juga: PT Pusri Palembang Gelar Klinik Sehati Batch III, Layani 1.700 Warga di Empat Kelurahan

Posisi tersebut menjadi yang tertinggi sejak 8 Juni, setelah pada sesi sebelumnya ditutup melesat di atas USD94.

Sedangkan harga minyak berjangka WTI AS terangkat USD1,44 atau 1,7% ke posisi USD88,27 per barel, melanjutkan tren penguatan hampir 3% pada hari Rabu.

2. Houthi Tembak Kapal Tanker Arab Saudi

Sementara itu kelompok Houthi di Yaman mulai menyerang kapal-kapal tanker minyak di Laut Merah .

Baca Juga: PLN Palembang Jadwalkan Pemeliharaan Jaringan Kamis 23 Juli 2026, Ini Daftar Wilayah Terdampaknya

Perdagangan komoditas utama global langsung merespons situasi panas ini, memicu lonjakan harga minyak dunia hingga nyaris menyentuh 100 dolar AS per barel.

3. Selat Hormuz Ditutup Total

Eskalasi konflik meningkat drastis setelah Presiden AS Donald Trump bersumpah akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Teheran menembaki kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Sebagai respons, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim sebuah kapal tanker minyak meledak dan terbakar hebat saat mencoba melewati rute beranjau di selatan Selat Hormuz, sementara dua kapal tanker lainnya memilih berputar balik.

Baca Juga: Bansos PKH BPNT Juli 2026 Mulai Disalurkan, Cek Status Penerima Bantuan di Sini

4. Laut Merah Ikut Diblokade

Eskalasi terjadi pada dua jalur penting pasokan energi global yakni Selat Hormuz di bawah kendali Iran disebut kembali tertutup total dengan banyak rute beranjau.

Selanjutnya ada Laut Merah yang juga diblokade oleh Houthi dengan tanker minyak Arab Saudi menjadi target.

Kelompok yang bersekutu dengan Iran itu juga membuka front pertempuran baru dengan melancarkan blokade maritim terhadap Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb.

Baca Juga: Info Cuaca Hari Ini: Palembang dan Lubuk Linggau Cerah Berawan, 15 Daerah Lainnya Hujan Ringan

Kelompok Houthi mengklaim telah menggempur dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi.

Sementara itu, keamanan maritim melaporkan bahwa salah satu kapal berbendera Saudi, Encelia telah dihantam proyektil di Laut Merah.

Houthi juga mengklaim telah memaksa sedikitnya 10 kapal kargo untuk berputar balik dan membatalkan pelayaran ke pelabuhan-pelabuhan Saudi.

5. Stok Minyak AS Naik di Luar Dugaan

Di tengah kepanikan geopolitik Timur Tengah, data pasokan dalam negeri AS menunjukkan dinamika berbeda. Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) melaporkan stok minyak mentah AS naik 2 juta barel minggu lalu akibat penurunan aktivitas kilang dan melesatnya volume impor.

Baca Juga: Komisi II DPR RI Dorong Sinergi Pusat-Daerah, Cik Ujang Siap Kawal Program Prioritas Presiden di Sumsel

Angka ini berbanding terbalik dari perkiraan analis yang memproyeksikan penurunan persediaan sebesar 1,1 juta barel.

Meski persediaan minyak AS membengkak, ketakutan akan terputusnya dua jalur maritim paling vital di dunia, yakni Selat Hormuz dan Laut Merah, tetap menjadi pendorong utama yang menyeret harga minyak ke tingkat yang kian mengkhawatirkan.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.