Sumsel

BPBD Sumsel Catat 781 Karhutla Sepanjang 2026, Warga Diminta Waspada di Puncak Musim Kemarau

Kurnia | 4 Agustus 2026, 18:13 WIB
BPBD Sumsel Catat 781 Karhutla Sepanjang 2026, Warga Diminta Waspada di Puncak Musim Kemarau

AKURAT.CO SUMSEL Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih tinggi seiring memasuki puncak musim kemarau 2026.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mengimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama membuka lahan dengan cara membakar.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumsel hingga Selasa (4/8/2026), telah terjadi 781 kejadian karhutla sejak 1 Januari hingga 3 Agustus 2026. Dari ratusan kejadian tersebut, luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 664,87 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyahbana, mengatakan seluruh personel gabungan masih disiagakan untuk mengantisipasi meningkatnya potensi kebakaran selama musim kemarau.

"Potensi karhutla di Sumatera Selatan masih cukup tinggi. Karena itu, kami terus meningkatkan patroli, pemantauan hotspot, pemadaman darat maupun udara, serta mengajak masyarakat ikut berperan aktif mencegah kebakaran," ujarnya, Selasa (4/8/2026).

Menurut Iqbal, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada aparat, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan dan menghindari penggunaan api saat membuka lahan.

BPBD Sumsel mencatat, berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan, terdapat 113 titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan pada 4 Agustus 2026.

Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 23 titik. Disusul Musi Banyuasin 20 titik, Banyuasin 16 titik, Lahat 10 titik, Ogan Ilir 9 titik, Ogan Komering Ulu (OKU) 8 titik, Musi Rawas Utara 6 titik, Empat Lawang 4 titik, Muara Enim dan Musi Rawas masing-masing 3 titik, serta Kota Palembang 1 titik.

Baca Juga: Motor Kurir Digondol Maling Saat Antar Paket di Palembang, 128 Kiriman Ikut Raib

Secara akumulatif, jumlah hotspot di Sumatera Selatan sepanjang 2026 hingga awal Agustus telah mencapai 5.334 titik.

Selain tingginya hotspot, BPBD juga mengingatkan bahwa sebagian besar wilayah Sumsel kini berada pada kategori Very High atau sangat mudah terbakar berdasarkan Fire Danger Rating System (FDRS) dari BMKG.

Kondisi tersebut dipengaruhi cuaca kering, luasnya kawasan rawan karhutla, sulitnya akses menuju lokasi kebakaran, keterbatasan sumber air, serta potensi munculnya kebakaran berulang di lahan gambut.

Faktor lain yang dinilai memperburuk situasi adalah masih adanya praktik pembukaan lahan dengan cara membakar dan kondisi angin yang cukup kencang selama musim kemarau sehingga api lebih cepat meluas.

BPBD juga mengungkapkan hasil pemantauan ASEAN Specialized Meteorological Centre (ASMC) pada 3 Agustus 2026 menunjukkan adanya asap kategori sedang (moderate haze) di sebagian wilayah Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin.

Sementara itu, kualitas udara berdasarkan pemantauan konsentrasi PM2.5 masih berada pada kategori sedang di sejumlah daerah, seperti Ogan Ilir, Prabumulih, Musi Banyuasin, Muara Enim, Musi Rawas, dan Lahat.

Untuk menghadapi ancaman karhutla, BPBD Sumsel telah menyiapkan 11.567 personel gabungan yang berasal dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II, Polisi Kehutanan, Satpol PP, Kelompok Tani Peduli Api, Masyarakat Peduli Api, hingga unsur perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri.

Selain kekuatan personel, dukungan armada udara juga telah disiagakan, terdiri atas satu pesawat patroli Cessna, satu helikopter patroli Airbus AS365 N2, serta lima helikopter water bombing yang ditempatkan di Lanud Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang untuk mempercepat penanganan jika terjadi kebakaran.

Iqbal kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

"Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk melindungi lingkungan, kesehatan masyarakat, dan menjaga kelestarian hutan serta lahan di Sumatera Selatan," tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia