Sumsel

5 Perusahaan Minyak Paling Untung Saat Perang AS Iran Berlangsung

Septiyanti Dwi Cahyani | 7 Agustus 2026, 09:00 WIB
5 Perusahaan Minyak Paling Untung Saat Perang AS Iran Berlangsung
Logo perusahaan minyak Shell - www.shell.com

AKURAT. CO SUMSEL - Perang berkepanjangan yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran membuat harga minyak global melonjak tajam.

Pasokan aliran energi global terganggu dan berdampak  pada pasar energi di seluruh dunia.

Di tengah gejolak tersebut, ternyata ada perusahaan-perusahaan minyak raksasa yang meraup untung besar bahkan lebih fantastis dari dampak perang terhadap Iran.

Baca Juga: Macet Jalintim Palembang–Betung Tembus 40 Km, Tol Palembang–Betung Didesak Segera Dibuka

Perusahaan-perusahaan seperti ExxonMobil, Chevron, Shell, dan BP terus meraup untung besar di tengah kekacauan ini, mengantongi laba miliaran dolar saat perang berlarut-larut tanpa tanda-tanda akan berakhir, serta meluasnya konflik hingga ke Laut Merah.

Berikut daftar perusahaan yang meraup untung besar di tengah perang Timur Tengah.

1. ExxonMobil (Rp259 Triliun)

Aljazeera melaporkan, perusahaan minyak terbesar di AS ini melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD14,5 miliar atau Rp259 triliun, dengan laba yang disesuaikan sebesar USD14,7 miliar, sekaligus mencatatkan laba kuartalan tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Baca Juga: Prabowo Panggil BRIN ke Istana, Bahas Riset Pangan, Energi hingga Solusi Atasi Sampah

Hasil kinerja ini didorong oleh kenaikan harga minyak dan margin penyulingan yang lebih kuat di tengah perang di Iran, meskipun angka laba tersebut sebenarnya berada di bawah ekspektasi Wall Street akibat gangguan produksi di Qatar.

2. Chevron (Rp215 Triliun)

Perusahaan terbesar kedua di AS ini melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD12 miliar atau Rp215 triliun —laba kuartalan tertinggi dalam enam tahun—yang melampaui perkiraan para analis.

Reuters melaporkan bahwa kenaikan harga minyak global mendongkrak kinerja operasi hulu maupun hilir; laba sektor hulu melonjak 200 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi $8,2 miliar, sementara laba sektor hilir mencapai USD4,9 miliar—kinerja terkuat Chevron sejak awal tahun 2010-an.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang Kamis 6 Agustus 2026 Kompak Naik Tajam, Cek Rincian Terbarunya

3. Shell (Rp179 Triliun)

Grup perusahaan Inggris-Belanda yang merupakan perusahaan minyak terbesar di Eropa ini mencatatkan kenaikan laba kuartal kedua hingga lebih dari dua kali lipat, dengan angka laba mendekati USD10 miliar (Rp179 Triliun) yang melampaui ekspektasi analis.

Pencapaian ini didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas serta ketangguhan operasi gas alam cair (LNG) di tengah gangguan produksi di beberapa wilayah Timur Tengah.

4. TotalEnergies (102 Triliun)

Baca Juga: Tak Cuma Rendah Kalori, Ini 7 Manfaat Makanan Rebus yang Baik untuk Kesehatan

Laba raksasa minyak asal Prancis ini naik 67 persen pada kuartal kedua—menjadi kuartal terbaiknya dalam hampir tiga tahun—yang didukung oleh harga minyak yang lebih tinggi serta margin keuntungan yang kuat dari penyulingan bahan kimia, sehingga mampu mengimbangi penurunan laba di sektor LNG.

5. Saudi Aramco (Rp585 Triliun)

Lonjakan keuntungan ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan minyak besar Barat.

Saudi Aramco, produsen minyak milik negara terbesar di dunia, juga melaporkan kenaikan tajam laba kuartalan—naik 44 persen secara tahunan menjadi USD32,69 miliar atau Rp585 Triliun.

Baca Juga: Bocoran Draf Kesepakatan Damai AS Iran: Teheran Ditawari Kendali Selat Hormuz, Amerika Kalah?

Pipa Timur-Barat milik Arab Saudi telah membantu mengurangi ketergantungan kerajaan tersebut pada Selat Hormuz untuk kegiatan ekspor. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.