Sumsel

Update Perang TimTeng: AS Berhenti Serang Iran Stok Amunisi Menipis, Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen

Septiyanti Dwi Cahyani | 29 Juli 2026, 07:00 WIB
Update Perang TimTeng: AS Berhenti Serang Iran Stok Amunisi Menipis, Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

AKURAT.CO SUMSEL - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi setelah Presiden Donald Trump menyatakan kedua negara sedang menjalani/ "pembicaraan yang baik".

Harga minyak mentah dunia terpantau melemah pada sejak Senin (27/7/2026) setelah Trump mengumumkan pernyataan tersebut.

Namun, di saat yang sama, ketegangan di Timur Tengah belum mereda setelah serangan drone menghantam target energi di Arab Saudi. Berikut rankuman update Perang AS Iran hingga Selasa, 28 Juli 2026:

Baca Juga: Asyik Main HP di Depan Rumah, Siswa SMP di Palembang Jadi Korban Jambret, Poco X7 Raib Digasak Pelaku

1. AS Iran Mendadak Gencatan Senjata, Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen

Pasar keuangan dan energi dunia bisa bernafas lega setelah harga minyak mentah internasional merosot tajam lebih dari 5% pada perdagangan 27-28 Juli 2026.

Anjloknya harga terjadi setelah Amerika Serikat atau AS dan Iran sepakat menghentikan sementara aksi saling serang, usai dua pekan pertempuran sengit yang melumpuhkan pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz .

Minyak acuan Brent turun drastis USD5,70 atau sekitar 5,9% ke level USD91,08 per barel, setelah sempat menyentuh level psikologis di bawah USD90.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang Selasa 28 Juli 2026 Kompak Stabil, Saatnya Mulai Investasi

Sementara itu minyak mentah US West Texas Intermediate (WTI) merosot USD4,80 yang setara 5,4% menjadi USD84,51 per barel.

Penurunan tajam ini menghentikan reli kenaikan harga selama tiga minggu berturut-turut, di mana Brent sempat menyenggol angka USD100 per barel akibat gangguan fatal pada jalur pasokan energi dunia.

Sinyal deeskalasi menguat setelah Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump memutuskan untuk menunda serangan militer balasan guna memberikan ruang bagi upaya diplomasi.

Baca Juga: Pelajar SD Tenggelam di Sungai Enim, Tim SAR Gabungan Masih Lakukan Pencarian

Kendati demikian, para pengamat pasar memperingatkan agar pelaku ekonomi tidak terburu-buru merayakan penurunan harga sesaat ini.

2. Giliran Arab Saudi Dibombardir

Meski sinyal diplomasi mulai menguat, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah belum mereda.

Arab Saudi mengaku berhasil mencegat sejumlah drone yang menargetkan instalasi perminyakan, termasuk di Riyadh.

Baca Juga: 20 Kampus Terbaik di Indonesia Versi Webometrics Juli 2026, UI Masih Teratas, UGM dan Unair Tempel Ketat

Riyadh menuduh pesawat nirawak tersebut diluncurkan dari Irak oleh kelompok bersenjata yang didukung Iran dan menegaskan berhak memberikan respons.

Di saat bersamaan, kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang jaringan Pipa Timur-Barat yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi dengan pelabuhan ekspor Yanbu di Laut Merah sebagai balasan atas serangan drone Saudi ke wilayah Yaman.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan serangan itu merupakan respons atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran wilayah udara Yaman oleh drone Saudi.

Baca Juga: Pendaki Bawa Senapan Angin di Gunung Dempo Diamankan, Diduga Sempat Ancam Pendaki

Ancaman terhadap jalur ekspor minyak tersebut menjadi perhatian pasar karena Arab Saudi selama ini mengandalkan pipa Timur-Barat untuk menghindari risiko gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz yang terus menjadi titik panas konflik.

3. Selat Hormuz di Bawah Kendali Iran

Sementara itu, Iran menegaskan tetap mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz.

Media pemerintah Iran melaporkan enam kapal yang disebut sebagai "kapal pelanggar" diperintahkan berbalik karena mencoba melintasi selat tersebut tanpa izin.

Baca Juga: Harga BBM di Indonesia Stabil di Tengah Fluktuasi Minyak Mentah Dunia, Berikut Rinciannya

Teheran juga menuduh militer AS berupaya menerapkan blokade maritim ilegal dengan mengancam kapal dan tanker minyak di kawasan, yang disebut sebagai bentuk eskalasi baru konflik.

4. AS Hentikan Serangan ke Iran, Stok Amunisi Udara Menipis

Di Washington, penghentian sementara operasi pengeboman disebut dilakukan setelah militer menilai efektivitas serangan telah mencapai batas maksimal.

Seorang pejabat AS mengatakan para komandan melaporkan sebagian besar target utama telah dihancurkan, sementara Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengingatkan soal menipisnya stok amunisi udara.

Baca Juga: Klasemen Piala AFF 2026 Usai Timnas Indonesia Bantai Kamboja 5 1

Trump membantah adanya kekurangan persenjataan dan menyatakan militer AS sedang mempercepat pemulihan stok serta menyiapkan persenjataan yang lebih canggih. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.