Ekspor Paha Kodok Sumsel Tembus Prancis, Raup Rp5,2 Miliar dan Buka Peluang Ekonomi Warga Desa

AKURAT.CO SUMSEL Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menunjukkan potensinya sebagai eksportir komoditas unggulan non-konvensional.
Kali ini, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumsel memfasilitasi pengiriman 32,06 ton paha kodok ke Prancis, dengan nilai ekonomi fantastis mencapai Rp5,24 miliar.
Kepala Karantina Sumsel, Sri Endah Ekandari, menegaskan bahwa seluruh proses ekspor dilakukan dengan prosedur ketat, mulai dari pemeriksaan fisik hingga verifikasi dokumen.
“Melalui tindakan karantina, kami pastikan setiap produk yang dikirim adalah yang terbaik dan sesuai persyaratan negara tujuan,” ujar Endah dalam keterangannya, Sabtu (2/8/2025).
Menariknya, peningkatan ekspor ini bukan hanya berdampak pada neraca perdagangan, tapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat pedesaan.
Para penangkap kodok rawa kini mendapat alternatif mata pencaharian yang menjanjikan, sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.
Baca Juga: Sumsel Dorong Banyuasin Jadi Sentra Telur Standar Ekspor, Fokuskan Sertifikasi Kesehatan Hewan
Lonjakan ekspor paha kodok dari Sumsel terbilang signifikan. Pada 2023 lalu, jumlah ekspor tercatat 17,08 ton. Namun, sepanjang 2024, angka itu melesat 405,85% menjadi 86,4 ton.
“Kami akan terus berperan aktif mendorong akselerasi ekspor berbagai komoditas unggulan Sumsel. Layanan karantina yang cepat dan profesional diharapkan dapat meningkatkan kontribusi daerah terhadap ekspor nasional,” ucap Endah.
Kodok rawa yang menjadi komoditas ekspor ini berasal dari lahan basah dan persawahan yang tersebar di berbagai wilayah Sumsel.
Setelah ditangkap, paha kodok diolah oleh eksportir bersertifikasi dengan sistem Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) untuk menjamin keamanan pangan.
Proses pengolahan diawasi secara ketat oleh teknisi Pengendali Hama dan Penyakit Ikan dari Karantina Sumsel. Mereka memastikan tempat pengolahan memenuhi standar dan produk yang dikirim memenuhi kriteria kesehatan serta keamanan pangan.
“Seluruh tahapan mulai dari penerimaan bahan baku, pemrosesan, hingga pengemasan dilakukan secara cermat dan sesuai prosedur. Ini penting untuk menjamin mutu serta kelancaran ekspor,” jelas Endah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bansos PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Aturan Jadwal, Besaran Nominal hingga Cara Cek Penerima
- 2Jadwal Timnas Indonesia Vs Vietnam, Laga Penentu Tiket Semifinal Piala AFF U 19 2026
- 3Harga Karet Sumsel Tembus Rp41 Ribu per Kg, Petani Nikmati Kenaikan Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
- 4Kapan PIP Kemendikdasmen Juni 2026 Cair? Pantau Jadwal Penyaluran Termin 2 di Sini
- 5Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia 2026 dengan Jam Tayang WIB
- 6Daftar Harga BBM Terbaru di Sumsel, Dexlite dan Pertamina Dex Turun Lagi
- 7Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 10 Juni 2026, Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter
- 85 Tuntutan Mahasiswa dalam Demo di Bundaran HI Jakarta Hari Ini
- 9Vivo S60 Series Resmi Meluncur, Usung Baterai 7.200mAh dan Layar 144Hz
- 10Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem








