Sumsel
HL Sumsel

Deretan Kontroversi Dadan Hidayana Saat Jabat Posisi Kepala BGN

Septiyanti Dwi Cahyani | 4 Juni 2026, 20:39 WIB
Deretan Kontroversi Dadan Hidayana Saat Jabat Posisi Kepala BGN
Dadan Hidayana.

AKURAT. CO SUMSEL - Kabar pencopotan Dadan Hidayana dari Kepala BGN hingga penetapannya sebagai tersangka hingga kini masih menjadi perbincangan hangat nasional.

Salah satu yang paling banyak dibahas terkait sederetan kontroversi Dadan saat masih menjabat Kepala BGN.

Dadan Hidayana diketahui dilantik oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada tahun 2024.

Baca Juga: Emas Pemberian Suami Raib di Klinik, IRT di Palembang Lapor Polisi

Posisi tersebut masih berlanjut sampai era pemerintahan Presiden Prabowo.

Namun, pada 2 Juni 2026 Prabowo resmi mencopot Dadan dari posisinya sebagai Kepala BGN setelah 1,5 tahun menjabat.

Selama memimpin BGN, Dadan kerap menjadi sorotan publik hingga menimbulkan polemik.

Baca Juga: Herman Deru dan Cik Ujang Kompak Jagokan Spanyol Juara Piala Dunia 2026, Lamine Yamal Jadi Alasan

Mulai dari pengadaan kaos kaki senilai miliaran rupiah hingga motor listrik.

Berikut deretan kontroversi Dadan selama menjabat kepala BGN.

1. Pengadaan Motor Listrik

Baca Juga: Kasat Lantas Polrestabes Palembang Berganti, AKBP Hendyanto Langsung Diberi Misi Khusus

Pengadaan motor listrik untuk Kepala SPPG menjadi salah satu yang paling disorot publik.

Di mana tujuannya adalah untuk mengawasi distribusi MBG, khususnya di wilayah sulit dijangkau.

Nilai pengadaannya mencapai sekitar Rp1,39 triliun.

Baca Juga: Rebutan Kunci Mobil Berujung KDRT, IRT di Palembang Laporkan Suami ke Polisi

Kebijakan ini menuai kontroversi karena dianggap sebagai bentuk pemborosan anggaran.

Bahkan, Menkeu Purbaya memutuskan untuk tidak melanjutkan pengadaan motor listrik tersebut pada 2026.

2. Kontroversi Pengadaan Atribut

Baca Juga: Rebutan Kunci Mobil Berujung KDRT, IRT di Palembang Laporkan Suami ke Polisi

Pada April 2026, sempat muncul dokumen pembahasan publik mengenai pengadaan beberapa atribut dengan harga fantastis.

Yaitu kaos kaki senilai Rp6,9 M, alat makan senilai Rp4 M, dan laptop sebanyak 32 ribu unit.

Polemik ini viral karena nilai pengadaannya disebut mencapai triliunan rupiah.

Baca Juga: Diduga Cemburu, Pemuda Asal Ogan Ilir Dianiaya Usai Pinjamkan Kacamata kepada Seorang Wanita

Namun, Dadan membantah berbagai angka yang beredar di media sosial.

Ia mengatakan pengadaan hanya sekitar 5000 unit sepanjang 2025, sementara kaos kaki merupakan perlengkapan peserta SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia), bukan pengadaan langsung BGN.

Dadan juga membantah
isu pengadaan alat makan Rp4 triliun.

Baca Juga: Kurang dari 24 Jam, Polisi Ringkus Pelaku Pembunuhan Sopir Truk Saat Isi BBM di Palembang

la menyebut anggaran untuk 315 SPPG hanya sekitar Rp215 miliar, dengan alokasi alat makan Rp89,3 miliar.

Meski demikian publik tetap mempertanyakan urgensi belanja perlengkapan non-pangan tersebut.

3. Pengadaan Zoom Rp5,7 Miliar

Baca Juga: Herman Deru Buka Suara soal Pergantian Pimpinan BGN, Fokus pada Peningkatan Layanan MBG di Sumsel

Dadan Hindayana menyebut Zoom digunakan untuk koordinasi nasional MBG sepanjang April-Desember 2025.

Namun, harga lisensi Zoom standar diketahui hanya sekitar Rp226 ribu-Rp249 ribu per bulan.

Karena itu, pengadaan senilai Rp5,7 miliar dianggap janggal.

Baca Juga: Pendapatan Negara di Sumsel Baru Capai 25 Persen Target, PNBP Melonjak Tapi Cukai Tertekan

Dadan menjelaskan bahwa anggaran tersebut mencakup paket enterprise dengan fitur keamanan data, bukan sekadar lisensi standar.

4. Membludaknya Kasus Keracunan MBG

Sejak Januari 2025 hingga 29 Mei 2026, lebih dari 8.182 SPPG sempat di-suspend akibat insiden keracunan.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang Naik Rp100 Ribu, per Suku Jadi Segini

Korbannya mencapai ribuan, bahkan puluhan ribu siswa terdampak.

Puncaknya terjadi pada Oktober 2025 dengan sekitar 85 kasus keracunan dalam satu bulan yang tersebar di berbagai daerah, termasuk Surabaya, Mojokerto, Duren Sawit, dan Jawa Timur.

Namun, Dadan menilai kasus-kasus tersebut terjadi akibat pelanggaran SOP di dapur SPPG, bukan dari sistem pengelolaan pusat program MBG.

Baca Juga: Prabowo Akui Sedih Copot Orang Kepercayaannya di BGN, Pilih Berpihak pada Rakyat

5. Anggaran EO Rp113 Miliar

Di era Dadan Hindayana, muncul puluhan paket kegiatan yang melibatkan banyak event organizer (EO).

Publik mempertanyakan mengapa lembaga gizi membutuhkan anggaran EO sebesar itu.

Baca Juga: Dolar Menguat, Harga Gadget hingga Skincare Impor Berpotensi Naik

Dadan menjelaskan bahwa saat itu BGN masih dalam tahap awal pembentukan dan belum memiliki SDM yang memadai.

Menurutnya, EO dibutuhkan untuk mendukung manajemen acara, pelaksanaan teknis, dan mitigasi risiko.

6. Kebutuhan Sapi untuk MBG Capai 19 Ribu Ekor per Hari

Baca Juga: Dari Rp50 Juta Jadi Rp6,7 Miliar, Ini Rincian Kekayaan Wakil Bupati PALI Iwan Tuaji

Hal tersebut pernah disampaikan Dadan hidayana dalam sebuah kesempata.

Ia mengatakan kebutuhan sapi untuk menu mbg bisa mencapai 19. 000 ekor per hari jika seluruh dapur MBG se Indonesia memasak menu berbahan dasar sapi.

Dadan nmenyebut, angka itu adalah simulasi perhitungan.

Baca Juga: 5 Buah Terbaik untuk Tubuh Saat Musim Panas, Bantu Cegah Dehidrasi dan Jaga Stamina

Angka tersebut muncul dari asumsi jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak menyajikan menu berbahan daging sapi dalam waktu yang sama. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.