Sumsel

Musim Kemarau, Debit Air Sejumlah Sungai di Sumsel Menyusut, Sungai Musi Turun hingga 1,27 Meter

Kurnia | 22 Juli 2026, 18:21 WIB
Musim Kemarau, Debit Air Sejumlah Sungai di Sumsel Menyusut, Sungai Musi Turun hingga 1,27 Meter

AKURAT.CO SUMSEL Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Selatan sejak awal Juni 2026 mulai berdampak pada menurunnya debit air di sejumlah sungai.

Tinggi muka air (TMA) di beberapa aliran sungai tercatat mengalami penyusutan, bahkan di beberapa titik mencapai lebih dari dua meter dari kondisi normal.

Di Kota Palembang, penurunan debit air terlihat di Sungai Musi. Berdasarkan hasil pemantauan Automatic Water Level Recorder (AWLR) Sekanak pada Selasa (21/7/2026) sore, tinggi muka air Sungai Musi tercatat berada di angka 1,27 meter.

Kepala Tim Pelaporan Monitoring dan Evaluasi WRDC serta Sistem Informasi Sumber Daya Air (Sisda) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII, Akson Nurhanafi, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi minimnya curah hujan selama musim kemarau sehingga pasokan air dari daerah hulu terus berkurang.

Baca Juga: Kejari Palembang Periksa Dua Anggota DPRD dalam Kasus Dugaan Korupsi Proyek Lampu Jalan APBD-P 2025

"Memang kondisi sungai sedang surut. Di AWLR Sekanak, tinggi muka air Sungai Musi saat ini tercatat 1,27 meter. Padahal dalam kondisi normal, tinggi muka air Sungai Musi berada di atas 3 meter," ujarnya.

Menurut Akson, penurunan tinggi muka air mulai terlihat signifikan sejak awal Juli. Selama periode tersebut, intensitas hujan yang rendah menyebabkan aliran air di berbagai sungai tidak sebesar biasanya.

BBWS Sumatera VIII terus memantau kondisi tersebut melalui jaringan AWLR yang tersebar di berbagai daerah di Sumatera Selatan. Hasil pemantauan menunjukkan sebagian besar stasiun mencatat tren penurunan tinggi muka air.

"Dari data yang kami terima, sekitar 11 AWLR yang berada di sejumlah sungai menunjukkan kondisi surut. Hanya AWLR Negeri Agung di Sungai Saka yang mengalami kenaikan, kemungkinan karena wilayah tersebut baru saja diguyur hujan," jelasnya.

Meski kondisi ini merupakan fenomena yang lazim terjadi pada musim kemarau, BBWS Sumatera VIII tetap melakukan pemantauan secara berkala untuk mengantisipasi dampak yang mungkin muncul apabila musim kering berlangsung lebih lama.

Hingga kini, pihak BBWS Sumatera VIII belum dapat memastikan sejauh mana penurunan debit air tersebut berdampak terhadap sektor pertanian, industri, maupun aktivitas masyarakat yang bergantung pada aliran sungai.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Sumatera Selatan memasuki puncak musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan debit sungai, meningkatnya risiko kekeringan, serta memperbesar ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia