Sumsel
HL Sumsel

Sumsel Mulai Kemarau, Dinkes Ingatkan Bahaya Asap dan Debu bagi Pernapasan

Kurnia | 1 Juni 2026, 19:00 WIB
Sumsel Mulai Kemarau, Dinkes Ingatkan Bahaya Asap dan Debu bagi Pernapasan
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit yang berpotensi meningkat selama musim kemarau 2026.

Cuaca panas, minimnya curah hujan, hingga keterbatasan air bersih dinilai dapat memicu munculnya sejumlah penyakit menular maupun gangguan kesehatan lainnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa mengatakan, musim kemarau yang diperkirakan berlangsung mulai Mei hingga Oktober harus dihadapi dengan kesiapan masyarakat melalui penerapan pola hidup bersih dan sehat.

“Penyakit yang perlu diwaspadai antara lain DBD, ISPA, diare, tifus, konjungtivitis, heatstroke, penyakit kulit, hingga campak dan rubella,” ujar Ira, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, salah satu penyakit yang berpotensi meningkat saat kemarau adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Meski curah hujan berkurang, nyamuk aedes aegypti masih dapat berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, drum, hingga dispenser.

Kondisi itu sering terjadi ketika masyarakat mulai menyimpan cadangan air akibat pasokan air yang berkurang selama musim kemarau.

Baca Juga: Saat Pemilik Terlelap, Maling Bobol Rumah di Jakabaring dan Gasak Uang serta Dokumen Penting

“Gejala DBD yang perlu diwaspadai di antaranya demam tinggi, nyeri otot dan sendi, muncul bintik merah, serta mual,” katanya.

Selain DBD, Dinkes Sumsel juga menyoroti ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seperti Musi Banyuasin, Banyuasin, dan Ogan Komering Ilir.

Asap dan debu akibat karhutla dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama pada anak-anak dan lanjut usia.

“Batuk, pilek, sakit tenggorokan hingga sesak napas harus segera ditangani agar tidak berkembang menjadi pneumonia,” jelas Ira.

Ia menambahkan, keterbatasan air bersih selama kemarau juga dapat meningkatkan risiko diare dan tifus akibat menurunnya kualitas air yang digunakan masyarakat.

Dinkes mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kebersihan makanan dan minuman, terutama jajanan yang dijual di tempat terbuka.

Di sisi lain, cuaca panas ekstrem dengan suhu yang bisa mencapai lebih dari 34 derajat Celsius juga meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi, khususnya bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Kelompok seperti petani, nelayan, pekerja bangunan, pedagang pasar, hingga pelajar disebut menjadi yang paling rentan terdampak.

“Gejalanya bisa berupa pusing, mual, kulit terasa panas, hingga pingsan,” ujarnya.

Tak hanya itu, kondisi udara kering dan berdebu juga memicu peningkatan kasus konjungtivitis atau mata merah yang mudah menular, terutama di lingkungan sekolah.

Dinkes Sumsel pun mengimbau masyarakat untuk menerapkan gerakan 3M Plus guna mencegah DBD, menggunakan masker saat udara berdebu atau terjadi kabut asap, memperbanyak konsumsi air putih, serta menghindari aktivitas berat pada siang hari.

“Masyarakat juga diingatkan rajin mencuci tangan, memasak air hingga mendidih, dan menjaga kebersihan lingkungan agar risiko penyakit saat musim kemarau bisa ditekan,” tutup Ira.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia