Sumsel
HL Sumsel

Hotspot di Sumsel Capai 708 Titik Selama Mei 2026, BPBD Minta Daerah Waspada

Kurnia | 3 Juni 2026, 20:00 WIB
Hotspot di Sumsel Capai 708 Titik Selama Mei 2026, BPBD Minta Daerah Waspada

AKURAT.CO SUMSEL Jumlah hotspot atau titik panas di Sumatera Selatan (Sumsel) sepanjang Mei 2026 tercatat mencapai 708 titik.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode bulan Mei dalam 11 tahun terakhir berdasarkan data Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi).

Peningkatan jumlah hotspot ini melampaui catatan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Mei 2025, jumlah hotspot tercatat sebanyak 523 titik, sedangkan pada Mei 2020 sebanyak 291 titik.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengatakan lonjakan titik panas terjadi seiring mulai masuknya sebagian besar wilayah Sumsel ke musim kemarau.

"Sepanjang Mei 2026 terpantau sebanyak 708 hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi untuk bulan Mei sejak 2015 dan melampaui catatan tahun lalu," ujarnya, Rabu (6/3/2026).

Menurut Sudirman, berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara di sejumlah daerah menjadi faktor utama meningkatnya jumlah hotspot.

Kondisi tersebut juga sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut sebagian wilayah Sumsel mengalami curah hujan rendah.

Baca Juga: Nekat Bobol Area Makam Keluarga, Dua Pencuri Material Aluminium Dibekuk Polisi

Akibatnya, vegetasi dan lapisan permukaan tanah menjadi lebih kering sehingga berpotensi memicu munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Memasuki musim kemarau, potensi kemunculan hotspot memang meningkat. Karena itu daerah-daerah yang selama ini rawan karhutla perlu meningkatkan kewaspadaan," katanya.

Berdasarkan data BPBD Sumsel, hotspot terbanyak selama Mei 2026 terdeteksi di Kabupaten Lahat dengan 164 titik, disusul Kabupaten Muara Enim sebanyak 145 titik. Kedua wilayah tersebut menjadi daerah dengan konsentrasi titik panas tertinggi selama periode pemantauan.

Meski demikian, Sudirman menjelaskan bahwa hotspot yang terdeteksi melalui satelit tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran. Titik panas hanya menjadi indikator awal yang harus diverifikasi langsung di lapangan.

"Setiap hotspot yang terpantau perlu dilakukan pengecekan untuk memastikan apakah benar terjadi kebakaran atau tidak. Karena tidak semua hotspot berujung menjadi karhutla," jelasnya.

Untuk mendukung upaya pemantauan, BPBD Sumsel saat ini mengoperasikan dua unit helikopter patroli udara yang secara rutin melakukan pengawasan di sejumlah wilayah rawan kebakaran.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait juga terus mengintensifkan langkah pencegahan guna mengantisipasi potensi karhutla selama musim kemarau berlangsung.

Masyarakat pun diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar agar dapat ditangani sejak dini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia