Sumsel

Kemarau Memuncak, Petani Karet Ogan Ilir Mulai Rasakan Produksi Getah Berkurang

Kurnia | 18 Agustus 2026, 20:00 WIB
Kemarau Memuncak, Petani Karet Ogan Ilir Mulai Rasakan Produksi Getah Berkurang
Petani karet - Tropenbos Indonesia

AKURAT.CO SUMSEL Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap perkebunan karet di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Sejumlah petani mulai melihat perubahan kondisi tanaman, mulai dari tanah yang semakin kering, daun berguguran hingga produksi getah yang cenderung menurun.

Kondisi tersebut dirasakan petani karet di Desa Tanjung Lalang, Kecamatan Payaraman. Mereka mulai meningkatkan perhatian terhadap kondisi kebun karena puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Sekjen Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel Rudi Arpian mengatakan kekeringan menjadi salah satu kondisi yang perlu diantisipasi petani.

"Cuaca di musim kemarau harus menjadi perhatian karena secara umum kondisi saat ini agak kering, sehingga masyarakat diminta meningkatkan dampak kekeringan," ujar Rudi, Selasa (18/8/2026).

Baca Juga: Pinjam Motor Alasan Ambil Gaji, Kakak Ipar di Palembang Malah Tak Bisa Dihubungi

Menurut Rudi, tanaman karet membutuhkan ketersediaan air untuk mendukung pertumbuhan sekaligus produksi lateks. Ketika tanah semakin kering, tanaman dapat mengalami tekanan dan mulai menggugurkan daun.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produksi apabila kekeringan berlangsung cukup lama.

Namun, Rudi menegaskan penurunan produksi karet tidak semata-mata disebabkan oleh kemarau. Ada sejumlah faktor lain yang turut menentukan banyak sedikitnya getah yang dihasilkan.

"Turunnya produksi ini disebabkan banyak faktor seperti umur tanaman, jenis klon, kondisi tanah, kesehatan tanaman hingga sistem penyadapan dan curah hujan di masing-masing wilayah yang dapat memengaruhi hasil produksi," katanya.

Baca Juga: Deretan Miliarder Muda AI di Silicon Valley, Kekayaan Tembus Triliunan Rupiah

Ketika hasil sadapan mulai berkurang, petani diminta tidak mengambil langkah dengan memaksakan produksi menggunakan stimulan secara berlebihan.

Rudi menjelaskan penggunaan stimulan tidak dapat menggantikan kebutuhan air bagi tanaman. Karena itu, perawatan kebun justru perlu disesuaikan dengan kondisi tanaman selama musim kering.

"Stimulan itu bukan pengganti air bagi tanaman. Perlu penyesuaian perawatan tanaman seperti mengurangi gulma, mempertahankan penutup tanah, dan memantau kondisi pohon saat daun berguguran," jelasnya.

Petani juga disarankan mencatat hasil produksi secara rutin. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui apakah penurunan produksi benar-benar berkaitan dengan kondisi kemarau atau dipengaruhi faktor lainnya.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau 2026 di Sumsel diperkirakan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus.

Situasi tersebut membuat petani karet perlu lebih aktif memantau kondisi tanaman dan hasil penyadapan.

Rudi mengatakan pencatatan produksi menjadi penting agar dampak kemarau terhadap petani dapat diketahui secara lebih terukur.

"Dengan begitu, dampak kemarau terhadap petani karet tidak hanya menjadi keluhan, tetapi bisa diketahui secara jelas melalui data produksi di lapangan," pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia