Sumsel
HL Sumsel

Harga Sawit Sumsel Turun Saat Dolar AS Menguat, Permintaan Ekspor Disebut Melemah

Kurnia | 20 Mei 2026, 21:00 WIB
Harga Sawit Sumsel Turun Saat Dolar AS Menguat, Permintaan Ekspor Disebut Melemah
Perkebunan Sawit.

AKURAT.CO SUMSEL Penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) ternyata belum mampu mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Selatan.

Pada periode II Mei 2026, harga sawit justru mengalami penurunan tipis akibat melemahnya harga crude palm oil (CPO) dunia dan melambatnya permintaan ekspor.

Berdasarkan penetapan Dinas Perkebunan Sumsel, harga TBS tertinggi untuk usia tanam 22 tahun kini berada di angka Rp3.868,17 per kilogram (kg), turun dibandingkan periode I Mei 2026 yang mencapai Rp3.905,44 per kg.

Penurunan harga juga terjadi pada kelompok usia produktif 10 hingga 20 tahun. Pada periode II Mei 2026, harga TBS ditetapkan Rp3.864,31 per kg, lebih rendah dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp3.898,14 per kg.

Sementara harga TBS usia 21 tahun berada di level Rp3.855,35 per kg dan usia 23 tahun sebesar Rp3.841,52 per kg.

Baca Juga: Niat Lerai Teman Bertengkar, Gadis di Palembang Malah Dianiaya hingga Dijambak dan Digigit

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, M Ichwansyah mengatakan, penurunan harga TBS dipengaruhi turunnya harga CPO di pasar internasional meskipun dolar AS sedang menguat.

“Secara sederhana memang dolar memengaruhi harga TBS, tapi bukan satu-satunya faktor. Saat ini harga acuan CPO dunia di Bursa Malaysia dan Rotterdam sedang turun,” ujar Ichwansyah, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, perlambatan permintaan ekspor dari sejumlah negara tujuan utama seperti Tiongkok dan Eropa turut memberi tekanan terhadap harga sawit.

Bahkan, beberapa negara mulai beralih menggunakan minyak nabati alternatif yang dinilai lebih murah, seperti minyak kedelai.

“Permintaan global sedang melambat. Jadi walaupun dolar menguat, dampaknya ke harga TBS tidak terlalu terasa karena harga CPO dunia justru turun,” katanya.

Selain faktor ekspor, kondisi stok dalam negeri juga ikut memengaruhi pergerakan harga sawit dalam jangka pendek. Penumpukan stok CPO di tangki timbun pelabuhan ekspor disebut menjadi salah satu penyebab harga belum kembali menguat.

Meski demikian, Ichwansyah menilai kondisi petani sawit di Sumsel masih cukup baik. Hal itu terlihat dari kenaikan indeks K yang kini mencapai 93,29 persen, naik dibandingkan sebelumnya sekitar 92 persen.

“Yang paling penting untuk sawit sebenarnya indeks K. Sekarang sudah 93 persen, artinya porsi harga yang diterima petani meningkat walaupun harga TBS turun tipis,” jelasnya.

Dalam penetapan periode II Mei 2026 tersebut, harga rata-rata CPO tercatat sebesar Rp15.058,72 per kg, sedangkan harga inti sawit atau kernel berada di angka Rp14.619,74 per kg.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia