Sumsel
HL Sumsel

190 Komoditas Naik, Sumsel Tetap Alami Deflasi pada April 2026

Kurnia | 5 Mei 2026, 19:00 WIB
190 Komoditas Naik, Sumsel Tetap Alami Deflasi pada April 2026

AKURAT.CO SUMSEL Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sumatera Selatan mengalami deflasi sebesar 0,04 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada April 2026. Kondisi ini terjadi meski sebagian besar komoditas justru mengalami kenaikan harga.

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, mengatakan angka deflasi tersebut lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 0,13 persen mtm. Bahkan, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, kondisi April 2026 jauh lebih terkendali.

“Angka ini juga lebih rendah dibandingkan April 2025 yang saat itu mengalami inflasi sebesar 1,39 persen,” ujarnya di Palembang, Selasa (5/5/2026).

Berdasarkan data BPS, dari 425 komoditas yang dipantau, sebanyak 190 komoditas mengalami kenaikan harga, sementara 78 komoditas lainnya mengalami penurunan.

Baca Juga: Tiga Daerah di Sumsel Ditarget Punya Dewan Pengupahan, UMK Sendiri Berlaku 2028

Namun, komoditas yang mengalami penurunan memiliki bobot konsumsi yang lebih besar, sehingga memberikan andil dominan terhadap terjadinya deflasi.

“Meski jumlah komoditas yang naik lebih banyak, komoditas yang turun memiliki pengaruh lebih besar terhadap pengeluaran masyarakat,” jelasnya.

Sejumlah komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi pada April 2026 antara lain emas perhiasan, daging ayam ras, telur ayam ras, serta tarif angkutan antarkota.

Dari sisi kelompok pengeluaran, dua kelompok tercatat mengalami penurunan, yakni kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi 0,18 persen dengan andil 0,05 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami deflasi cukup dalam sebesar 1,40 persen dengan andil 0,13 persen.

Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), Sumatera Selatan masih mencatat inflasi sebesar 1,63 persen. Angka ini menurun signifikan dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 3,09 persen.

Inflasi tahunan tersebut didorong oleh kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 0,29 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,02 persen.

BPS menilai, kondisi ini menunjukkan stabilitas harga di Sumatera Selatan masih terjaga, meskipun terdapat dinamika pergerakan harga di berbagai komoditas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia