Sumsel

BGN Coret Puluhan Ribu Siswa dari Program Makan Bergizi Gratis, Anggaran Dialihkan ke Kelompok Rentan

Kurnia | 19 Juni 2026, 14:00 WIB
BGN Coret Puluhan Ribu Siswa dari Program Makan Bergizi Gratis, Anggaran Dialihkan ke Kelompok Rentan
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menata ulang sasaran penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memprioritaskan kelompok yang dinilai lebih membutuhkan bantuan pemenuhan gizi dari pemerintah.

Dalam evaluasi tahap awal, BGN menemukan 76 sekolah di Pulau Jawa dengan total 39.352 siswa yang tidak lagi masuk kategori prioritas penerima manfaat program.

Anggaran yang sebelumnya dialokasikan untuk sekolah-sekolah tersebut akan dialihkan kepada kelompok rentan, termasuk masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Wakil Kepala BGN sekaligus Juru Bicara BGN, Agustina Arumsari, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan efektivitas program sekaligus memastikan bantuan negara tepat sasaran.

"Hingga saat ini kami telah mengidentifikasi 76 sekolah di Pulau Jawa dengan total 39.352 siswa. Anggaran yang sebelumnya dialokasikan kepada mereka akan difokuskan kepada kelompok yang lebih membutuhkan intervensi gizi," kata Agustina, Kamis (18/6/2026).

Baca Juga: Puncak Musim Kering Sumsel Mundur, BMKG Beberkan Penyebabnya

Menurut dia, proses evaluasi dilakukan melalui sejumlah indikator, mulai dari kondisi sosial ekonomi keluarga, tingkat kerentanan gizi, hingga kemampuan siswa dalam memenuhi kebutuhan makanan bergizi tanpa dukungan pemerintah.

BGN menilai intervensi gizi harus diprioritaskan kepada kelompok yang memiliki keterbatasan akses terhadap makanan sehat dan bergizi. Karena itu, pemerintah akan memperluas jangkauan program ke wilayah-wilayah yang selama ini masih menghadapi persoalan pemenuhan gizi.

Selain menyasar siswa di daerah yang lebih membutuhkan, sebagian anggaran juga akan dialihkan untuk mendukung pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kelompok tersebut dinilai menjadi prioritas karena berperan penting dalam upaya mencegah stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan generasi mendatang.

"Nantinya anggaran akan dialihkan ke sekolah lain yang lebih membutuhkan, termasuk daerah 3T, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita," ujarnya.

Meski demikian, BGN menegaskan proses pendataan dan verifikasi masih berlangsung. Artinya, jumlah sekolah maupun siswa yang tidak lagi menerima manfaat MBG masih berpotensi bertambah seiring pembaruan data di lapangan.

Agustina menekankan bahwa langkah refocusing ini bukan bentuk pengurangan manfaat program, melainkan penyesuaian agar anggaran negara dapat digunakan secara lebih efektif.

Menurutnya, siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi cukup baik dan mampu memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri tidak lagi menjadi prioritas utama dalam program tersebut.

"Kami ingin memastikan program ini tepat sasaran sehingga intervensi gizi dari pemerintah benar-benar dirasakan oleh anak-anak yang membutuhkan," tegasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia