Sumsel
HL Sumsel

Kebutuhan Ahli Gizi Meningkat Seiring Ekspansi Program MBG

Kurnia | 29 April 2026, 13:31 WIB
Kebutuhan Ahli Gizi Meningkat Seiring Ekspansi Program MBG

AKURAT.CO SUMSEL Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga mendorong lonjakan kebutuhan tenaga ahli gizi di berbagai daerah.

Hal ini seiring dengan perluasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang kini telah tersebar dalam jumlah besar di seluruh Indonesia.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyatakan bahwa profesi ahli gizi yang sebelumnya kurang diminati kini justru menjadi salah satu yang paling dibutuhkan.

Menurutnya, setiap unit SPPG diwajibkan memiliki setidaknya satu tenaga ahli gizi untuk memastikan kualitas makanan yang disajikan memenuhi standar yang ditetapkan.

“Permintaan di lapangan sangat tinggi. Program studi gizi yang dulu sepi peminat, sekarang menjadi salah satu yang paling dicari,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Dengan jumlah SPPG yang telah mencapai puluhan ribu unit, kebutuhan tenaga profesional di bidang ini meningkat signifikan.

Baca Juga: Pemprov Sumsel Siapkan Aturan Pembebasan Pajak Kendaraan Listrik

Tidak hanya ahli gizi, kebutuhan juga mencakup tenaga pendukung seperti pengolah makanan dan pengawas mutu pangan.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, BGN membuka peluang bagi lulusan dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, seperti kesehatan masyarakat, teknologi pangan, hingga keamanan pangan.

Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat pemenuhan sumber daya manusia tanpa mengabaikan kualitas layanan.

Dadan menekankan bahwa peran ahli gizi sangat krusial dalam menyukseskan program MBG, terutama karena pendekatan yang digunakan berbasis potensi lokal.

Setiap daerah memiliki karakteristik bahan pangan dan pola konsumsi yang berbeda, sehingga diperlukan keahlian khusus dalam menyusun menu yang tepat dan seimbang.

Selain membuka lapangan kerja baru, peningkatan kebutuhan tenaga gizi juga mendorong dunia pendidikan untuk beradaptasi.

Perguruan tinggi diharapkan dapat menyesuaikan kurikulum serta meningkatkan kapasitas pendidikan di bidang gizi dan pangan.

Program MBG pun dinilai menjadi momentum penting bagi kebangkitan pendidikan vokasi dan profesi di sektor kesehatan dan pangan, sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia