Sumsel

Sumsel Ingin Lepas dari Ketergantungan Sapi Lampung, Breeding Digenjot

Kurnia | 19 Agustus 2026, 17:00 WIB
Sumsel Ingin Lepas dari Ketergantungan Sapi Lampung, Breeding Digenjot
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Sumatera Selatan (Sumsel) mulai mendorong perubahan pola peternakan dari sekadar penggemukan menjadi pembiakan atau breeding untuk meningkatkan populasi sapi lokal.

Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Sumsel terhadap pasokan sapi dari luar daerah, terutama Lampung, sekaligus mendukung target swasembada daging nasional.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Ruzuan Efendi, mengatakan saat ini kebutuhan sapi untuk penggemukan di Sumsel masih banyak dipenuhi dari luar daerah.

"Kalau dalam arti penggemukan kita ingin ternak kita berasal dari kita, bukan impor. Bisakah kita menghasilkan itu dengan populasi? Kita belum bisa saat ini, semuanya masih harus didatangkan," kata Ruzuan, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut perlu diubah secara bertahap. Pemerintah tidak hanya berfokus pada penambahan sapi untuk digemukkan, tetapi juga memperbanyak indukan agar populasi ternak dapat berkembang secara mandiri.

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang di Tiap Toko Berbeda, Cek Rincian Terbarunya

Ruzuan menjelaskan, program pembiakan menjadi salah satu kunci untuk memperkuat populasi sapi di Sumsel.

Pembiakan dapat dilakukan melalui sejumlah metode, mulai dari perkawinan alami, inseminasi buatan hingga teknologi transfer embrio.

Dengan pola tersebut, sapi yang dipelihara di Sumsel diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai ternak penggemukan, tetapi juga mampu menghasilkan anak sapi secara berkelanjutan.

"Apa yang disampaikan Pak Prabowo itu untuk lima tahun ke depan, dengan penambahan populasi dalam arti breeding, bukan penggemukan," ujarnya.

Pemerintah berharap peningkatan populasi ternak tersebut dapat menjadi fondasi bagi Sumsel untuk memenuhi kebutuhan daging secara lebih mandiri.

"Indonesia bisa, Sumsel bisa. Karena Sumsel salah satu provinsi yang bisa mendukung program swasembada daging," kata Ruzuan.

Sejumlah wilayah di Sumsel dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan peternakan.

Beberapa di antaranya adalah Ogan Komering Ilir (OKI), OKU Timur, Banyuasin, Lubuklinggau dan Muara Enim.

Pengembangan sentra peternakan di daerah-daerah tersebut diharapkan mampu menciptakan sumber populasi sapi baru.

Jika berhasil, Sumsel tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan daging untuk masyarakat lokal, tetapi juga memiliki peluang memasok ternak ke daerah lain.

Upaya meningkatkan kemandirian pangan hewani Sumsel tidak hanya mengandalkan sapi.

Pemerintah juga melihat potensi besar dari kerbau rawa yang berkembang di Kabupaten Banyuasin, khususnya kawasan Pampangan dan Rambutan.

Ruzuan menyebut populasi kerbau rawa di wilayah tersebut terus berkembang. Potensi itu kini tidak hanya diarahkan untuk produksi daging, tetapi juga mulai dikembangkan sebagai sumber susu.

"Kita ada ekosistem kerbau rawa di Banyuasin yang berkembang, apalagi di Pampangan dan Rambutan. Secara populasi terus bertambah," tuturnya.

Saat ini, produksi susu kerbau masih sekitar satu liter per ekor per hari. DKPP Sumsel menargetkan produktivitas tersebut dapat meningkat melalui perbaikan bibit dan pola pemeliharaan.

"Kita berharap bisa lima liter sampai 15 liter. Produksi susu kerbau ini akan kita kembangkan secara perlahan," jelas Ruzuan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia