Sumsel

Rupiah Melemah ke Kisaran Rp17.990 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Data Ekonomi Amerika

Kurnia | 26 Juni 2026, 12:00 WIB
Rupiah Melemah ke Kisaran Rp17.990 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Data Ekonomi Amerika
Rupiah Melemah ke Kisaran Rp17.990 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Data Ekonomi Amerika

AKURAT.CO SUMSEL Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (26/6/2026).

Mata uang Garuda dibuka melemah dan bergerak di kisaran Rp17.950 hingga Rp17.991 per dolar AS pada pasar spot.

Pergerakan tersebut membuat rupiah menjauhi penguatan tipis yang dibukukan pada sesi sebelumnya ketika ditutup di level Rp17.943 per dolar AS.

Pelemahan sekitar 0,25 persen turut membawa rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global setelah sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kinerja yang masih solid.

Data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE), yang menjadi salah satu acuan kebijakan bank sentral AS, tercatat tumbuh 4,1 persen secara tahunan.

Baca Juga: Jepang Jadi Negara Asia Pertama yang Lolos dari Fase Grup Piala Dunia 2026

Angka tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama sebelum mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter.

Selain itu, revisi naik pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal I-2026 menjadi 2,1 persen turut memperkuat optimisme terhadap perekonomian Negeri Paman Sam.

Kondisi tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS (DXY) ke kisaran 101,53.

Tekanan terhadap mata uang regional juga terlihat pada perdagangan hari ini.

Sejumlah mata uang Asia, termasuk won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan baht Thailand, sama-sama bergerak melemah terhadap dolar AS seiring meningkatnya permintaan aset berdenominasi dolar.

Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah Brent yang bertahan di bawah level 73 dolar AS per barel memberikan sentimen positif bagi Indonesia.

Harga energi yang lebih rendah dinilai membantu meredakan kekhawatiran terhadap risiko defisit transaksi berjalan dan tekanan fiskal, sehingga membatasi pelemahan rupiah agar tidak bergerak lebih dalam.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan data ekonomi global serta arah kebijakan moneter Federal Reserve yang diperkirakan masih menjadi faktor utama penentu pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia