Sumsel
HL Sumsel

Dolar Tembus Rp18.000, Ekonom Sumsel Ingatkan Ancaman PHK dan Turunnya Daya Beli Masyarakat

Kurnia | 6 Juni 2026, 20:00 WIB
Dolar Tembus Rp18.000, Ekonom Sumsel Ingatkan Ancaman PHK dan Turunnya Daya Beli Masyarakat
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp18.000 memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian nasional maupun daerah.

Di Sumatera Selatan, pelemahan rupiah dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap dunia usaha dan daya beli masyarakat.

Pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Prof. Dr. Sri Rahayu, mengatakan dampak kenaikan dolar tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat secara luas.

Menurutnya, jika pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama tanpa langkah mitigasi yang tepat, sejumlah sektor berisiko mengalami perlambatan, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

“Ketika nilai dolar terus meningkat, biaya produksi juga ikut naik. Kondisi ini bisa memengaruhi kapasitas produksi perusahaan dan pada akhirnya berdampak pada tenaga kerja,” ujar Sri Rahayu, Sabtu (6/6/2026).

Ia menjelaskan, industri manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap fluktuasi nilai tukar karena sebagian bahan baku masih didatangkan dari luar negeri.

Baca Juga: Baru Pulang Haji, Jemaah Asal Sumsel Harus Menunggu Hingga 44 Tahun Jika Ingin Berangkat Lagi

Kenaikan biaya impor membuat beban operasional perusahaan meningkat, sehingga dapat mengurangi keuntungan dan mengganggu keberlangsungan usaha jika terjadi dalam jangka panjang.

Untuk mengurangi dampak tersebut, Sri Rahayu mendorong peningkatan penggunaan bahan baku dan komponen lokal agar ketergantungan terhadap produk impor dapat ditekan.

“Penguatan industri berbasis sumber daya lokal menjadi salah satu langkah yang perlu terus didorong agar dunia usaha lebih tahan terhadap gejolak nilai tukar,” katanya.

Sri Rahayu juga menyoroti maraknya candaan di media sosial terkait pelemahan rupiah dan kenaikan nilai dolar. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini perlu disikapi secara serius karena berpengaruh langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Ia mengajak masyarakat untuk lebih fokus pada upaya produktif, seperti meningkatkan keterampilan, berwirausaha, dan memperkuat sektor usaha riil dibanding sekadar meramaikan perbincangan di media sosial.

“Yang terpenting adalah bagaimana semua pihak berupaya menjaga ketahanan ekonomi, baik melalui inovasi maupun pengembangan usaha yang produktif,” ujarnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Sri Rahayu menilai penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga aktivitas ekonomi tetap bergerak.

Ia mengapresiasi berbagai program pemberdayaan UMKM dan pengembangan ekonomi yang selama ini dilakukan oleh Bank Indonesia serta berbagai lembaga terkait.

Menurutnya, dukungan terhadap UMKM dapat membantu menjaga perputaran uang di dalam negeri sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Meski tantangan ekonomi global masih membayangi, Sri Rahayu mengajak seluruh pihak untuk tetap optimistis dan bersama-sama memperkuat fondasi ekonomi daerah agar mampu menghadapi tekanan yang muncul akibat gejolak nilai tukar dan kondisi pasar internasional.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia