Sumsel

Hotspot Sumsel Tembus 7.050 Titik, Musim Hujan Berpotensi Mundur ke November

Kurnia | 12 Agustus 2026, 18:16 WIB
Hotspot Sumsel Tembus 7.050 Titik, Musim Hujan Berpotensi Mundur ke November

AKURAT.CO SUMSEL Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) semakin meningkat di tengah puncak musim kemarau. Sejak awal tahun hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 7.050 titik panas (hotspot) terdeteksi di berbagai wilayah Sumsel.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel memperingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan karena kondisi kering diperkirakan masih berlangsung hingga September.

Kepala BPBD

Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan periode Agustus hingga September menjadi waktu yang perlu diwaspadai karena risiko karhutla diperkirakan semakin tinggi.

"Ini yang perlu kita waspadai bersama. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dan kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan," kata Iqbal, Rabu (12/8/2026).

Menurut Iqbal, peningkatan hotspot mulai terlihat sejak Mei 2026. Jumlahnya kemudian terus meningkat pada Juni dan Juli.

Khusus periode 1-10 Agustus 2026, sebanyak 2.145 hotspot terdeteksi di Sumsel.

Baca Juga: Kabut Asap Mulai Terasa, Dinkes Sumsel Waspadai Lonjakan ISPA pada Agustus

Lonjakan titik panas tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya kejadian karhutla. Pada Juni tercatat 120 kejadian, kemudian melonjak menjadi 456 kejadian pada Juli.

Sementara hingga Agustus 2026, BPBD telah mencatat 399 kejadian karhutla.

Secara keseluruhan, terdapat 1.077 kejadian karhutla yang tercatat sejak Januari hingga Agustus 2026.

Sejumlah daerah menjadi wilayah dengan kejadian karhutla paling banyak, yakni Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim.Kondisi lahan gambut yang mulai mengering menjadi persoalan lain yang dihadapi tim penanganan karhutla.

BPBD Sumsel menyebut sejumlah kawasan gambut mulai mengalami kekeringan. Kondisi tersebut membuat lahan semakin mudah terbakar ketika muncul sumber api.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, luas lahan terbakar di Sumsel telah mencapai lebih dari 664,87 hektare. Namun, angka tersebut baru berdasarkan penghitungan hingga Juni 2026 sehingga belum mencerminkan luas lahan yang terbakar hingga Agustus.

"Wilayah-wilayah gambut sudah mulai mengering dan potensi kebakarannya akan semakin besar pada Agustus dan September. Karena itu, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan pencegahan," jelas Iqbal.

Musim Hujan Berpotensi Mundur

Ancaman karhutla juga semakin besar karena kondisi kering diperkirakan belum segera berakhir.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengatakan kondisi kering diprediksi masih berlangsung hingga September.

Fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) turut memengaruhi kondisi iklim di Sumsel. Kedua fenomena tersebut berpotensi mengurangi curah hujan sehingga kondisi lahan tetap kering lebih lama.

"El Nino membuat kita kehilangan hujan karena hujannya dibawa ke Samudra Pasifik. Ada satu faktor lagi yang mulai menguat, yaitu IOD. Ini juga membawa hujan khususnya di Sumatra ke Samudra Pasifik," kata Wandayantolis.

Kondisi tersebut juga berpotensi menggeser awal musim hujan. Jika sebelumnya hujan diperkirakan mulai turun pada pertengahan Oktober, perubahan kondisi iklim dapat membuat musim hujan mundur hingga akhir Oktober atau bahkan awal November.

"Namun, dengan El Nino yang intensitasnya sangat kuat, ada potensi awal musim hujan mundur ke akhir Oktober atau bahkan awal November," jelasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia