121 Hotspot Terpantau, DLHP Sumsel Sebut Kualitas Udara Mulai Menurun

AKURAT.CO SUMSEL Aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) mulai berdampak terhadap kualitas udara. Sebanyak 121 titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Sumsel hingga Rabu (12/8/2026).
Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, Rezawahya, mengatakan kualitas udara secara umum masih relatif baik. Namun, beberapa daerah yang berada di sekitar lokasi karhutla mulai mengalami penurunan kualitas udara.
"Kualitas udara memang menurun, kalau dibanding 2023 tidak separah 2023," ujar Rezawahya, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, kondisi saat ini masih jauh dibandingkan situasi karhutla pada 2023. Saat itu, jumlah hotspot pernah melonjak hingga lebih dari 500 titik dalam sehari.
Asap karhutla kala itu bahkan sempat menyelimuti sejumlah wilayah Sumsel. Jarak pandang menurun drastis hingga kurang dari 100 meter dan kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat.
"Kalau tahun 2023, kita itu pernah di atas 200 (sangat tidak sehat), yang asapnya sampai menutupi Sungai Musi, enggak kelihatan lagi. Jarak pandangan di bawah 100 meter," katanya.
Baca Juga: 8 Bulan Buron, Pelaku Begal yang Tusuk Korban Berkali-kali Ditangkap Saat Hendak Pesta di Palembang
Sementara pada 2026, peningkatan hotspot mulai terjadi seiring memasuki puncak musim kemarau. Namun, penanganan di lapangan dinilai lebih cepat sehingga dampak asap belum separah tiga tahun lalu.
"Kalau dilihat dari jumlah titik panas, kayaknya masih jauh dari kondisi seperti tahun 2023, di mana waktu itu banyak sekali hotspot dan sulit dikendalikan tim. Alhamdulillah sekarang tidak terlalu banyak, dan tim lapangan bergerak cepat," jelasnya.
Meski secara umum kualitas udara Sumsel masih terkendali, kondisi di setiap daerah tidak sama. Wilayah yang berdekatan dengan titik karhutla mulai menunjukkan kualitas udara yang perlu diwaspadai.
Salah satunya Kabupaten Ogan Ilir. Berdasarkan pemantauan terakhir, indeks kualitas udara di wilayah tersebut berada di kisaran angka 90-an.
Angka tersebut masih masuk kategori sedang, tetapi sudah mendekati batas kategori tidak sehat.
"Secara umum masih bagus. Memang data kita menunjukkan sudah kategori tidak sehat, di atas 100. Tapi di Ogan Ilir angkanya kemarin masih sekitar 90-an, sedang, yang mendekati tidak sehat," ungkap Rezawahya.
Kondisi ini menjadi perhatian karena puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Kondisi lahan yang semakin kering berpotensi mempercepat penyebaran karhutla dan meningkatkan konsentrasi partikulat di udara.
Masyarakat pun diminta tetap memantau perkembangan kualitas udara, terutama ketika terjadi peningkatan aktivitas karhutla di wilayah sekitar.
Untuk masyarakat umum, aktivitas di luar ruangan masih relatif aman selama kualitas udara tetap terkendali. Namun, kelompok sensitif diminta meningkatkan kewaspadaan.
"Kalau untuk aktivitas di luar ruangan masih aman. Kalau yang sensitif, kayak orang yang punya asma, jangan terlalu banyak aktivitas di luar rumah," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Jadwal Pencairan Bansos Tahap 3 Agustus 2026: PKH, BPNT, BLT Kesra Rp900.000
- 2Apakah Besok 18 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama HUT RI ke 81? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 3Pelajar 15 Tahun Dikeroyok hingga Dibacok di Palembang, Pelaku Disebut dari 5 Sekolah
- 4PKH Tahap 3 Cair Agustus 2026, Cek Penerima Cukup Pakai NIK KTP
- 5Jadwal Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 di Plaza 7 Ulu Palembang
- 6Daftar Wilayah Terdampak Pemadaman Listrik PLN Palembang Sabtu 15 Agustus 2026
- 7Balasan Menohok Iran Usai Trump Nyatakan Bakal Deklarasikan Selat Hormuz Milik AS
- 8Video Pengeroyokan Pelajar Beredar, Polisi Cek TKP di Demang Lebar Daun Palembang
- 95.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu
- 10Kata BMKG Soal Narasi Musim Kemarau 2026 Akan Jadi yang Terparah Sepanjang 30 Tahun








