Hotspot Sumsel Tembus 7.050 Titik, 11 Ribu Personel Disiapkan Hadapi Puncak Kemarau

AKURAT.CO SUMSEL Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel) memasuki fase yang semakin serius. Pemerintah daerah memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September 2026, sehingga kesiapsiagaan terus diperkuat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel kini menyiagakan 11.567 personel gabungan serta sembilan helikopter untuk menghadapi potensi peningkatan karhutla.
Kesiapan tersebut dibahas dalam rapat evaluasi penanggulangan karhutla 2026 di Kantor BPBD Sumsel, Selasa (11/8/2026). Rapat digelar menindaklanjuti instruksi Gubernur Sumsel Herman Deru agar penanganan karhutla diperkuat selama puncak musim kemarau.
Kepala BPBD Sumsel Muhammad Iqbal Alisyahbana mengatakan pada Selasa (11/8), masih terdeteksi 142 titik panas di wilayah Sumsel.
Hotspot tersebut tersebar di kawasan lahan mineral maupun gambut.\
Baca Juga: 251 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel, Terbanyak Ada di OKI dan Muba
Jika dihitung sejak awal tahun hingga 10 Agustus 2026, jumlah hotspot di Sumsel telah mencapai 7.050 titik.
Aktivitas titik panas sempat relatif rendah pada Januari hingga April. Namun, peningkatan mulai terlihat sejak Mei dan terus berlanjut pada Juni serta Juli.
Lonjakan paling tinggi terjadi pada periode 1-10 Agustus dengan 2.145 hotspot.
Peningkatan hotspot tersebut juga diikuti bertambahnya kejadian karhutla. Pada Juni tercatat 120 kejadian, kemudian melonjak menjadi 456 kejadian pada Juli.
Sementara hingga pertengahan Agustus, sudah tercatat 399 kejadian. Dengan demikian, total kejadian karhutla di Sumsel sepanjang 2026 telah mencapai 1.077 kasus.
Lima daerah menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak, yakni Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim.
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan per Juni 2026, luas lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 664,87 hektare.
Iqbal mengatakan kondisi lahan gambut juga mulai mengkhawatirkan, khususnya di wilayah OKI.
"Wilayah gambut, khususnya di OKI, mulai mengering berdasarkan hasil patroli udara. Potensi kebakaran akan semakin besar pada Agustus dan September," kata Iqbal.
Menurutnya, pencegahan perlu diperkuat karena karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat akibat asap.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, sebanyak 11.567 personel gabungan disiapkan. Mereka berasal dari BPBD, TNI, Polri, Lanud, Manggala Agni, Satpol PP, Polhut hingga Masyarakat Peduli Api (MPA).
Dukungan dari udara juga diperkuat. BPBD Sumsel mendapat tambahan dua helikopter water bombing dari BNPB.
Dengan tambahan tersebut, total armada udara yang disiagakan mencapai sembilan unit. Rinciannya tujuh helikopter untuk water bombing dan dua armada untuk patroli serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang membuat ancaman karhutla semakin tinggi.
Menurutnya, fenomena El Nino yang berada pada kategori kuat berpotensi berkembang menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD).
"El Nino dan IOD membuat pasokan uap air terdorong ke Samudra Pasifik. Akibatnya, Sumsel semakin kering dan puncak kemarau berlangsung Agustus–September," jelasnya.
Kondisi tersebut juga berpotensi membuat musim hujan datang lebih lambat. Jika sebelumnya awal musim hujan diperkirakan terjadi pada pertengahan Oktober, kini berpotensi mundur hingga akhir Oktober atau awal November.
Sementara itu, Danlanud Sri Mulyono Herlambang Kolonel Pnb Asep Wahyu Wijaya memastikan jajaran TNI AU siap mendukung operasi penanganan karhutla.
Dukungan tersebut mencakup patroli udara, water bombing hingga OMC.
Wilayah operasi udara telah dibagi menjadi enam sektor. Misi water bombing dijadwalkan berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.
"Kami juga berkoordinasi dengan BMKG untuk merencanakan potensi pelaksanaan OMC pada malam hari jika tutupan awan memungkinkan," ujar Asep.
Dengan meningkatnya hotspot dan kejadian karhutla, seluruh unsur diminta memperkuat pemantauan dan pencegahan. Langkah tersebut menjadi penting untuk mencegah kebakaran meluas saat Sumsel memasuki periode paling rawan dalam musim kemarau 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Jadwal Pencairan Bansos Tahap 3 Agustus 2026: PKH, BPNT, BLT Kesra Rp900.000
- 2Apakah Besok 18 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama HUT RI ke 81? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 3Pelajar 15 Tahun Dikeroyok hingga Dibacok di Palembang, Pelaku Disebut dari 5 Sekolah
- 4PKH Tahap 3 Cair Agustus 2026, Cek Penerima Cukup Pakai NIK KTP
- 5Jadwal Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 di Plaza 7 Ulu Palembang
- 6Daftar Wilayah Terdampak Pemadaman Listrik PLN Palembang Sabtu 15 Agustus 2026
- 7Balasan Menohok Iran Usai Trump Nyatakan Bakal Deklarasikan Selat Hormuz Milik AS
- 8Video Pengeroyokan Pelajar Beredar, Polisi Cek TKP di Demang Lebar Daun Palembang
- 95.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu
- 10Kata BMKG Soal Narasi Musim Kemarau 2026 Akan Jadi yang Terparah Sepanjang 30 Tahun








