Sumsel

251 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel, Terbanyak Ada di OKI dan Muba

Kurnia | 11 Agustus 2026, 17:44 WIB
251 Titik Panas Terdeteksi di Sumsel, Terbanyak Ada di OKI dan Muba
Karhutla Sumsel. - Manggala Agni

AKURAT.CO SUMSEL Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan (Sumsel) melonjak hingga 251 titik. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang 2026 dan tersebar di 14 kabupaten/kota.

Dari 251 hotspot tersebut, sebanyak 181 titik berada di lahan mineral dan 70 titik lainnya terdeteksi di kawasan gambut.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin (Muba) menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak.

"Hotspot di Sumsel hingga pagi tadi tercatat sebanyak 251 titik. Ini merupakan angka tertinggi sepanjang tahun 2026," ujar Sudirman.

Di OKI terdapat 54 hotspot, dengan 23 titik berada di lahan gambut. Sementara Muba mencatat 51 titik, termasuk 29 titik di kawasan gambut.

Baca Juga: Kapolrestabes Palembang Ganti Tiga Pejabat Utama, Pelayanan Publik Jadi Sorotan

Hotspot juga terdeteksi di sejumlah wilayah lainnya. Muara Enim mencatat 28 titik, Ogan Ilir 21 titik, Banyuasin 20 titik, dan Lahat 20 titik.

Selanjutnya, OKU Timur memiliki 11 titik, Muratara dan OKU Selatan masing-masing 10 titik, OKU sembilan titik, Musi Rawas delapan titik, serta Empat Lawang dan PALI masing-masing empat titik. Sementara di Kota Palembang terpantau satu hotspot.

Lonjakan tersebut menjadi perhatian BPBD Sumsel karena wilayah Sumsel saat ini memasuki periode puncak musim kemarau. Kondisi lahan yang semakin kering membuat potensi muncul dan meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin tinggi.

Sebelumnya, jumlah hotspot tertinggi pada 2026 tercatat pada Jumat (7/8/2026), yakni sebanyak 241 titik yang tersebar di 12 daerah.

Meski jumlahnya meningkat, Sudirman mengingatkan bahwa kemunculan hotspot tidak otomatis berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal yang tetap harus diverifikasi melalui pengecekan langsung di lapangan.

"Hotspot tidak serta-merta menandakan telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal yang harus diverifikasi," katanya.

Menurut Sudirman, tingginya aktivitas hotspot tetap perlu diwaspadai. Terlebih, kondisi vegetasi dan lahan yang kering dapat membuat api lebih cepat berkembang apabila tidak segera ditangani.

BPBD Sumsel pun terus memantau perkembangan hotspot dan melakukan koordinasi untuk memastikan setiap titik yang terdeteksi dapat segera diverifikasi.

Sepanjang Agustus 2026 hingga Senin (10/8), jumlah hotspot di Sumsel tercatat telah mencapai 1.242 titik.

Angka tersebut menunjukkan tingginya aktivitas titik panas di Sumsel selama periode puncak musim kemarau. Kondisi ini sekaligus menjadi peringatan bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman karhutla.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia