Sumsel

Musim Kemarau dan Asap Karhutla Mengintai, Dinkes Sumsel Ingatkan Warga Waspadai Lonjakan ISPA

Kurnia | 4 Agustus 2026, 19:00 WIB
Musim Kemarau dan Asap Karhutla Mengintai, Dinkes Sumsel Ingatkan Warga Waspadai Lonjakan ISPA
Kepala Dinkes Sumsel, Trisnawarman

AKURAT.CO SUMSEL Memasuki puncak musim kemarau, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berpotensi dipicu memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinkes Sumsel, Trisnawarman, mengatakan setiap musim kemarau biasanya terjadi peningkatan kasus ISPA, terlebih jika kabut asap mulai menyelimuti sejumlah wilayah.

"Biasanya setiap musim kemarau memang ada peningkatan kasus ISPA, apalagi jika disertai karhutla yang menyebabkan asap," ujarnya di Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (4/8/2026).

Meski demikian, data Dinkes menunjukkan jumlah kasus ISPA pada semester pertama 2026 masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Januari 2026 tercatat 50.651 kasus, kemudian menurun menjadi 33.582 kasus pada Juni.

Baca Juga: BPBD Sumsel Catat 781 Karhutla Sepanjang 2026, Warga Diminta Waspada di Puncak Musim Kemarau

Sebagai perbandingan, pada Januari 2025 tercatat 45.131 kasus dan meningkat menjadi 40.067 kasus pada Juni.

Menurut Trisnawarman, penurunan tersebut belum bisa menjadi alasan untuk lengah. Memasuki Agustus hingga September, risiko peningkatan ISPA diperkirakan kembali muncul seiring meningkatnya ancaman karhutla dan penurunan kualitas udara.

"Ancaman ISPA masih tetap ada. Karena itu masyarakat harus menjaga kesehatan dan mengurangi paparan asap, terutama jika terjadi kebakaran hutan dan lahan," katanya.

Berdasarkan data Dinkes Sumsel, Kota Palembang masih menjadi daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 85.032 kasus. Setelah itu disusul Muara Enim sebanyak 30.668 kasus, Musi Banyuasin 17.946 kasus, OKU Timur 15.109 kasus, Banyuasin 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, dan Lahat 13.523 kasus. Sementara kabupaten dan kota lainnya juga masih mencatat ribuan kasus sepanjang tahun ini.

Trisnawarman menjelaskan ISPA merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, jamur, maupun paparan polusi udara seperti asap kendaraan dan asap kebakaran hutan.

Gejala yang umum dirasakan penderita antara lain batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas.

Pada kondisi yang lebih berat, penderita bisa mengalami sesak napas, nyeri dada, demam tinggi berkepanjangan, bahkan bibir membiru sehingga memerlukan penanganan medis segera.

Ia menambahkan, balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis menjadi kelompok yang paling rentan terdampak karena memiliki daya tahan tubuh yang lebih lemah.

Untuk mengurangi risiko ISPA, Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat menjaga kualitas udara di dalam rumah dengan membuka ventilasi pada pagi hari, menghindari asap rokok maupun pembakaran sampah, serta menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk atau saat beraktivitas di luar ruangan.

Selain itu, masyarakat juga diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, serta mencukupi waktu istirahat agar daya tahan tubuh tetap terjaga.

"Jangan menunggu sampai kondisi memburuk. Jika mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh, demam tinggi, atau sesak napas, segera periksakan diri ke puskesmas atau rumah sakit agar mendapatkan penanganan lebih cepat," tegas Trisnawarman.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia