Palembang Terasa Makin Terik, BMKG Sebut Dipicu Udara Kering dan Minim Awan

AKURAT.CO SUMSEL Cuaca di Kota Palembang dalam beberapa hari terakhir terasa lebih terik dari biasanya.
Meski demikian, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi tersebut bukan disebabkan oleh lonjakan suhu ekstrem, melainkan dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang membuat udara terasa lebih panas dan kering.
Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan, Nandang Pangaribowo, mengatakan suhu udara di Sumatera Selatan hingga saat ini masih berada dalam kisaran normal.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, suhu maksimum di wilayah Sumsel berkisar antara 32 hingga 34 derajat Celsius.
"Di Kota Palembang, suhu maksimum yang tercatat pada 28 Juni 2026 mencapai 33,8 derajat Celsius. Jadi secara meteorologis masih berada dalam kategori normal," kata Nandang.
Baca Juga: Dinkes Ungkap Alasan Sumsel Rawan Flu Singapura, Anak TK dan SD Diminta Lebih Waspada
Menurutnya, sensasi panas yang dirasakan masyarakat dipengaruhi dominasi angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Sumatera Selatan.
Kondisi tersebut menyebabkan pembentukan awan berkurang sehingga sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi dengan intensitas yang lebih tinggi.
Selain itu, minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih banyak diserap permukaan bumi. Bersamaan dengan itu, Sumatera Selatan kini mulai memasuki musim kemarau yang ditandai dengan menurunnya curah hujan.
BMKG memperkirakan musim kemarau tahun ini berpotensi berlangsung lebih kering dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi perubahan pola iklim global yang mulai mengarah ke fase El Nino dengan intensitas sedang hingga kuat.
"Perubahan iklim global serta meningkatnya suhu permukaan laut di sejumlah perairan Indonesia turut memengaruhi kondisi cuaca sehingga udara terasa lebih panas dan kering," jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas sehari-hari agar terhindar dari dampak cuaca panas.
Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi, serta menggunakan pelindung seperti topi, payung, pakaian berlengan panjang, dan tabir surya saat beraktivitas di bawah sinar matahari.
Selain berdampak pada kesehatan, cuaca yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena itu, BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
BMKG memprediksi kondisi cuaca kering di Sumatera Selatan masih akan berlangsung hingga sekitar Oktober 2026.
Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap potensi kekeringan maupun meningkatnya ancaman karhutla selama periode tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini, 14 Oktober 2026: Saatnya Fokus pada Diri Sendiri dan Karier
- 23 Mobil LCGC Paling Laris di Indonesia September 2026, Toyota Calya Masih Jadi Andalan
- 3Cara Cek Desil Online Penerima Bansos PKH BPNT Oktober 2026
- 4Bansos Tahap 4 Mulai Cair, Ini Cara Cek Status Penerima Pakai NIK KTP
- 5Daftar 17 Perusahaan Diselidiki Terkait Karhutla di Sumsel, Baru Satu Manajemen Jadi Tersangka
- 6Info Gangguan Air PDAM Tirta Musi Palembang Besok Jumat 16 Oktober 2026, Cek Daftar Lokasi Terdampak
- 7Jadwal Pemadaman Listrik PLN Palembang Rabu 14 Oktober 2026, Catat Wilayah Terdampaknya
- 85 Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Oktober 2026, Ada Peluang Baru dalam Karier dan Asmara
- 9Lindungi Warga dari Asap Karhutla, Puskesmas di Sumsel Diminta Buka 24 Jam
- 105.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu









