Palembang Tertinggi, Kasus Campak di Sumsel Capai 809 Hingga Mei 2026

AKURAT.CO SUMSEL Tren kasus campak di Sumatera Selatan mulai menunjukkan penurunan menjelang pertengahan 2026. Namun, di balik kabar baik tersebut, pemerintah mengingatkan bahwa ancaman penyebaran penyakit ini masih nyata jika kewaspadaan masyarakat menurun.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat hingga 26 Mei 2026 terdapat 809 kasus campak yang telah terkonfirmasi positif dari total 2.882 kasus suspek sepanjang tahun ini. Angka tersebut menurun dibanding lonjakan yang terjadi pada periode Januari hingga April.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, menyebut penurunan ini tidak lepas dari kerja bersama tenaga kesehatan dan masyarakat.
“Trennya mulai turun, ini berkat kolaborasi petugas kesehatan, kader posyandu, dan kesadaran masyarakat,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).
Meski demikian, Ira menegaskan bahwa kondisi ini belum sepenuhnya aman. Campak dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Baca Juga: Sapi Kurban Kabur hingga Terjun ke Parit, Evakuasi Dramatis Jadi Tontonan Warga Palembang
“Kalau imunisasi menurun, kasus bisa kembali naik,” katanya mengingatkan.
Secara wilayah, Kota Palembang masih menjadi daerah dengan kasus tertinggi, dengan 442 kasus positif dari 1.495 suspek. Disusul Kota Prabumulih dan Musi Rawas yang juga mencatat puluhan kasus positif.
Sementara itu, hanya tiga daerah yang tercatat masih bebas dari kasus positif campak, yakni Pagar Alam, OKU Timur, dan OKU Selatan.
Untuk menekan potensi lonjakan baru, Dinkes terus menggencarkan imunisasi MR (Measles-Rubella) bagi anak usia 9 bulan ke atas. Layanan imunisasi susulan pun masih tersedia secara gratis di puskesmas dan posyandu.
Selain itu, masyarakat diminta lebih peka terhadap gejala awal campak seperti demam tinggi, ruam merah, batuk, pilek, dan mata merah. Penanganan dini dinilai penting untuk mencegah penularan lebih luas.
“Kalau ada gejala, segera periksa. Jangan tunggu parah karena bisa menular ke orang lain,” jelas Ira.
Dinkes juga mengingatkan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta melakukan isolasi sementara bagi anak yang sakit.
Penurunan kasus saat ini menjadi peluang untuk mengendalikan campak secara lebih optimal. Namun tanpa partisipasi aktif masyarakat, terutama dalam imunisasi anak, capaian tersebut bisa dengan cepat berubah.
“Jangan lengah. Satu anak yang tidak diimunisasi bisa memicu penyebaran baru,” tegas Ira.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Jadwal Pencairan Bansos Tahap 3 Agustus 2026: PKH, BPNT, BLT Kesra Rp900.000
- 2Apakah Besok 18 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama HUT RI ke 81? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 3Daftar Tuntutan Demo Mahasiswa di Jakarta Hari Ini: Harga BBM, MBG dan KDMP Jadi Sorotan Utama
- 45 Ramalan Zodiak Hari Ini, Selasa 18 Agustus 2026: Ada yang Berpeluang Dapat Rezeki dan Kabar Baik
- 5Cara Mencairkan Bansos PKH dan BPNT Agustus 2026 Lewat Bank dan Kantor Pos
- 6Bianca Alessia Christabella Lantang, Putri Sulawesi Utara yang Dipercaya Membawa Baki Bendera Pusaka
- 7Apakah Hari Ini 18 Agustus 2026 Libur? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 8Update Terbaru Harga Emas Perhiasan Palembang, Naik atau Turun?
- 95.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu
- 10Kata BMKG Soal Narasi Musim Kemarau 2026 Akan Jadi yang Terparah Sepanjang 30 Tahun








