Sumsel
HL Sumsel

Lima Bulan Dilanda 90 Bencana, Banjir dan Angin Kencang Dominasi Sumsel

Kurnia | 27 Mei 2026, 14:00 WIB
Lima Bulan Dilanda 90 Bencana, Banjir dan Angin Kencang Dominasi Sumsel
Ilustrasi

AKURAT.CO SUMSEL Sepanjang periode 1 Januari hingga 25 Mei 2026, Provinsi Sumatera Selatan dihadapkan pada tingginya frekuensi bencana alam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mencatat total 90 kejadian, dengan banjir dan angin kencang menjadi ancaman paling dominan selama musim hujan.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, mengungkapkan bahwa dari total tersebut, banjir terjadi sebanyak 32 kali dan angin kencang 30 kali kejadian. Sisanya terdiri dari berbagai jenis bencana lain yang juga berdampak signifikan bagi masyarakat.

“Selain banjir dan angin kencang, kami juga mencatat 14 kejadian tanah longsor, 8 kebakaran permukiman, 4 banjir bandang, serta 2 kejadian angin puting beliung,” ujarnya, Rabu (27/5/2026).

Dampak paling besar ditimbulkan oleh banjir yang merendam puluhan ribu rumah warga. BPBD mencatat sebanyak 43.770 unit rumah terdampak genangan air. Dari jumlah itu, 108 rumah mengalami kerusakan berat, 32 rusak sedang, dan 139 rusak ringan.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.800 per Dolar AS, Pemerintah Klaim APBN Tetap Aman

Tak hanya permukiman, infrastruktur juga ikut terdampak. Sedikitnya 15 jembatan dilaporkan mengalami kerusakan akibat terjangan banjir. Kondisi ini turut mengganggu aktivitas masyarakat dan distribusi logistik di sejumlah wilayah.

Selain itu, fasilitas umum seperti sekolah dan tempat ibadah juga tak luput dari dampak bencana. Tercatat 66 unit fasilitas pendidikan, 39 rumah ibadah, serta puluhan bangunan lainnya mengalami kerusakan.

Sektor pertanian pun ikut terpukul. Lahan sawah seluas 4.810 hektare dan perkebunan seluas 1.395 hektare terdampak banjir, yang berpotensi mengganggu produksi pangan di daerah tersebut.

Dari sisi kemanusiaan, bencana yang terjadi selama lima bulan terakhir berdampak pada 43.708 kepala keluarga (KK). Sebanyak 607 KK di antaranya terpaksa mengungsi. Selain itu, tercatat tiga orang mengalami luka-luka dan empat orang meninggal dunia.

Secara geografis, Kabupaten Ogan Ilir menjadi wilayah dengan jumlah kejadian bencana tertinggi, yakni 16 kali. Disusul OKU Selatan dengan 12 kejadian, Muara Enim 9 kejadian, Kota Prabumulih 8 kejadian, serta OKI sebanyak 7 kejadian.

Tingginya angka bencana ini menjadi peringatan bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi ke depan. BPBD pun mengimbau agar langkah mitigasi dan kesiapsiagaan terus diperkuat guna meminimalisir risiko korban dan kerugian.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia