Pengamat Politik: Debat Calon Wagub Sumsel Belum Sajikan Program Kerja yang Konkret

AKURAT.CO SUMSEL Pengamat politik dari UIN Raden Fatah, Yulion Zalpa, menilai bahwa debat kedua Pilkada Sumatera Selatan (Sumsel) masih belum memberikan gambaran konkret mengenai program kerja yang akan diusung oleh para calon wakil gubernur.
Ketiga calon, yaitu Cik Ujang, RA Anita Noeringhati, dan Rizky Aprilia, dinilai hanya menyampaikan persoalan secara tekstual dan normatif, tanpa memberikan rencana kerja yang jelas dan mendetail.
Menurut Yulion, debat tersebut seharusnya menjadi ajang bagi para calon untuk menyampaikan solusi nyata atas berbagai isu pembangunan daerah. Namun, hasil debat justru dianggap membingungkan publik karena tidak ada program yang disampaikan secara lugas.
"Menurut pengamatan saya dalam debat semalam, ketiga calon belum berhasil menjelaskan secara spesifik isu-isu yang dibahas. Sehingga tidak muncul kebijakan dan program kerja yang konkret," ungkap Yulion saat dikonfirmasi, Senin (11/11/2024).
Yulion menilai, pertanyaan-pertanyaan dari panelis seharusnya dapat diolah lebih rinci oleh para calon wakil gubernur untuk disampaikan dalam bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.
"Mungkin karena waktu yang terbatas, namun sebagai calon wakil gubernur, seharusnya mereka sudah mampu menjawab beberapa isu dengan lebih jelas," jelasnya.
Ia juga menyoroti ketidakmampuan calon dalam menjawab isu spesifik yang diajukan, seperti soal infrastruktur dan reformasi birokrasi.
Baca Juga: Melihat Janji Pendidikan dan Berobat Gratis dari Tiga Cawagub Sumsel dalam Debat Publik Kedua
Sebagai contoh, Yulion mengungkapkan bahwa Cik Ujang, calon nomor urut 01, terlihat tidak menguasai permasalahan infrastruktur secara mendalam. Demikian pula Anita Noeringhati dari nomor urut 02 yang dinilai kurang mampu menjelaskan arah reformasi birokrasi dan digitalisasi layanan publik secara konkret.
Calon nomor urut 03 juga dianggap tidak mampu memaparkan program spesifik yang akan dikerjakan.
Ketiga calon bukan orang baru dalam politik atau kebijakan publik; Cik Ujang pernah menjabat sebagai Bupati Lahat, sementara Anita dan Rizky memiliki pengalaman di lembaga legislatif tingkat provinsi dan nasional.
Namun, pengalaman tersebut belum tampak dalam jawaban yang mampu meyakinkan publik tentang visi dan misi yang lebih realistis.
"Intinya, debat masih sangat tekstual dan normatif," tutup Yulion. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









