Sumsel
HL Sumsel

Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem

Kurnia | 1 Juni 2026, 18:00 WIB
Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem
Terik matahari

AKURAT.CO SUMSEL Suhu udara di Palembang belakangan terasa lebih panas dari biasanya. Kondisi ini bahkan dikeluhkan banyak warga karena cuaca menyengat mulai dirasakan sejak pertengahan Mei 2026.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumatera Selatan mengungkap, panas ekstrem yang terjadi di Palembang dipengaruhi sejumlah faktor alam, mulai dari minimnya pembentukan awan hingga wilayah Sumsel yang mulai memasuki musim kemarau.

Kepala BMKG Sumsel Wandayantolis mengatakan, berkurangnya tutupan awan membuat radiasi matahari langsung mengenai permukaan bumi sehingga suhu udara terasa lebih tinggi.

“Palembang saat ini minim pembentukan awan yang biasanya melindungi wilayah dari radiasi matahari langsung, sehingga cuaca terasa panas,” ujar Wandayantolis, Senin (1/6/2026).

Baca Juga: Gaji Ke-13 ASN Sumsel Cair Pekan Ini, 30 Ribu Pegawai Bersiap Sambut Tahun Ajaran Baru

Menurutnya, saat ini Sumatera Selatan sedang berada pada masa peralihan atau pancaroba menuju musim kemarau. Kondisi tersebut menyebabkan curah hujan mulai menurun dan suhu udara meningkat secara bertahap.

“Sumsel secara bertahap memasuki musim kemarau,” katanya.

BMKG menjelaskan, fase pancaroba biasanya identik dengan peningkatan suhu harian karena wilayah Sumsel sedang memasuki puncak suhu maksimum pertama dalam setahun.

Selain itu, jeda hujan yang semakin panjang juga membuat udara terasa lebih menyengat. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah bahkan mengalami hari tanpa hujan selama tiga hingga enam hari berturut-turut.

“Ketika hari tanpa hujan terjadi, suhu udara akan terasa lebih panas,” jelasnya.

Tak hanya itu, kondisi atmosfer yang mulai kehilangan kandungan uap air juga menjadi penyebab cuaca semakin terik. Minimnya uap air membuat pertumbuhan awan hujan berkurang sehingga panas matahari lebih mudah terserap di permukaan bumi.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG SMB II Palembang Sinta Andayani mengatakan, penurunan kelembapan udara membuat efek pendinginan alami dari hujan ikut berkurang.

“Ketersediaan uap air di atmosfer mulai berkurang. Dengan kondisi ini, pertumbuhan awan hujan juga menjadi minim,” ujar Sinta.

BMKG memprediksi kondisi panas masih berpotensi berlangsung dalam beberapa waktu ke depan seiring wilayah Sumsel yang terus bergerak menuju musim kemarau.

Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, memperbanyak konsumsi air putih, serta mengurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari untuk menghindari dampak cuaca panas ekstrem.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia