Sumsel

Mengapa Indonesia Kaya Energi Panas Bumi? Ini 5 Faktor yang Membuat Potensinya Termasuk Terbesar di Dunia

Kurnia | 25 Juli 2026, 13:05 WIB
Mengapa Indonesia Kaya Energi Panas Bumi? Ini 5 Faktor yang Membuat Potensinya Termasuk Terbesar di Dunia
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan potensi energi panas bumi (geothermal) terbesar di dunia.

Kondisi geografis dan geologinya membuat negeri ini memiliki ribuan titik sumber panas bumi yang berpotensi dimanfaatkan sebagai energi terbarukan.

Di tengah upaya pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih, panas bumi menjadi salah satu sumber daya yang dinilai mampu menopang kebutuhan listrik nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Berikut lima faktor utama yang membuat Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar.

1. Berada di Jalur Cincin Api Pasifik

Indonesia berada di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, yakni jalur yang dikelilingi gunung api aktif dan memiliki aktivitas vulkanik tinggi.

Kondisi tersebut memungkinkan panas dari dalam bumi lebih mudah muncul ke permukaan sehingga membentuk banyak sumber geothermal.

2. Memiliki Ratusan Gunung Api

Indonesia memiliki ratusan gunung api, dengan lebih dari seratus di antaranya masih aktif.

Aktivitas vulkanik ini menjadi sumber panas alami yang memanaskan air di bawah permukaan bumi hingga menghasilkan uap dan air panas yang dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.

Baca Juga: Bansos Tahap 3 Mulai Cair, Ini Penyebab NIK KTP Tidak Terdaftar sebagai Penerima dan Cara Mengatasinya

3. Berada di Pertemuan Tiga Lempeng Tektonik

Secara geologis, Indonesia berada di pertemuan Lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Pergerakan ketiga lempeng tersebut memicu aktivitas magma yang menjadi sumber utama terbentuknya energi panas bumi.

4. Cadangan Geothermal Sangat Besar

Potensi panas bumi Indonesia tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi hingga Maluku. Besarnya cadangan tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan sumber daya geothermal terbesar secara global.

5. Struktur Geologi yang Mendukung

Selain aktivitas vulkanik, lapisan batuan di Indonesia juga mampu membentuk reservoir alami yang menyimpan air panas dan uap. Kondisi ini menjadi faktor penting dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).

Banyak Daerah Sudah Memanfaatkan Panas Bumi

Sejumlah wilayah telah mengembangkan panas bumi sebagai sumber energi listrik. Beberapa kawasan yang dikenal memiliki pembangkit panas bumi antara lain Kamojang dan Wayang Windu di Jawa Barat, Dieng di Jawa Tengah, Sarulla di Sumatra Utara, Ulubelu di Lampung, serta Lahendong di Sulawesi Utara.

Meski demikian, masih banyak potensi geothermal di berbagai daerah yang belum dimanfaatkan secara maksimal dan masih dalam tahap penelitian maupun pengembangan.

Manfaat bagi Ketahanan Energi Nasional

Pemanfaatan energi panas bumi memberikan berbagai manfaat, mulai dari menghasilkan listrik dengan emisi karbon yang lebih rendah hingga mengurangi ketergantungan terhadap batu bara, minyak bumi, dan gas alam.

Selain mendukung target bauran energi baru terbarukan, pengembangan proyek geothermal juga mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan perekonomian daerah, serta memperkuat ketahanan energi nasional.

Pengembangan Masih Hadapi Tantangan

Di balik potensinya yang besar, pengembangan panas bumi masih menghadapi sejumlah kendala. Biaya eksplorasi yang tinggi, proses pembangunan yang memerlukan waktu panjang, serta tantangan infrastruktur di wilayah pegunungan menjadi beberapa faktor yang harus diatasi.

Meski begitu, dengan dukungan teknologi dan investasi yang terus berkembang, energi panas bumi diproyeksikan akan memainkan peran semakin penting dalam memenuhi kebutuhan energi Indonesia di masa depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia