Sumsel

25 Orang Tewas Diterjang Gelombang Panas Ekstrem di AS, Jutaan Warga Terpapar Suhu Hingga 45,5 Derajat Celsius

Kurnia | 7 Juli 2026, 13:00 WIB
25 Orang Tewas Diterjang Gelombang Panas Ekstrem di AS, Jutaan Warga Terpapar Suhu Hingga 45,5 Derajat Celsius
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah Amerika Serikat (AS) telah menewaskan sedikitnya 25 orang.

Cuaca dengan suhu sangat tinggi itu juga berdampak pada jutaan warga yang masih harus menghadapi kondisi panas berbahaya selama beberapa hari terakhir.

Lebih dari 20 negara bagian dilaporkan mengalami suhu udara di atas 38 derajat Celsius. Wilayah Barat Daya menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak, termasuk Arizona dan California.

Kota Phoenix dan Tucson bahkan masih berada dalam status peringatan cuaca panas ekstrem dengan suhu siang hari mencapai sekitar 45,5 derajat Celsius.

Korban meninggal berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari 30 hingga 80 tahun. Laporan awal menyebutkan kematian pertama terjadi pada Kamis (3/7/2026).

Baca Juga: Dolar AS Masih Bertahan di Level Rp17.900, Rupiah Menguat Tipis

Hingga kini, otoritas setempat masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti setiap kasus, meski dugaan kuat mengarah pada paparan suhu panas yang ekstrem.

Departemen Kesehatan Masyarakat New Jersey mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh kondisi cuaca yang sedang terjadi.

"Ini bukan gelombang panas musim panas yang biasa. Kondisi seperti ini dapat dengan cepat mengancam keselamatan manusia maupun hewan dari segala usia," demikian pernyataan lembaga tersebut.

Salah satu korban adalah Mitchell Ray Cooley (74), warga Hinds County, Mississippi.

Cooley sebelumnya dilaporkan hilang sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di belakang sebuah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) pada Jumat (4/7/2026).

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, pihak forensik menyatakan Cooley meninggal akibat paparan suhu panas. Korban diketahui memiliki kondisi medis yang memengaruhi kemampuan mengambil keputusan, sementara penyelidikan tidak menemukan indikasi adanya tindak kriminal.

Dampak gelombang panas juga terasa di New York City. Sedikitnya 378 orang harus mendapatkan perawatan di instalasi gawat darurat (IGD) akibat gangguan kesehatan yang dipicu suhu tinggi.

Di sejumlah wilayah timur AS, panas ekstrem turut memicu pemadaman listrik yang mengganggu aktivitas masyarakat.

Saat Presiden AS Donald Trump menghadiri perayaan Hari Kemerdekaan di Washington DC pada Sabtu (4/7/2026), layanan darurat setempat mencatat sedikitnya 51 kasus gangguan kesehatan akibat heatstroke hingga pukul 20.00 waktu setempat.

Sebanyak 12 orang di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Cuaca panas yang membahayakan juga memaksa sejumlah agenda publik dibatalkan. Parade Hari Kemerdekaan di Washington DC tidak jadi digelar karena suhu yang dinilai berisiko bagi peserta dan pengunjung.

Sementara itu, acara Great American State Fair yang berlangsung di kawasan National Mall sempat dihentikan sementara setelah 44 pengunjung mengalami gangguan kesehatan akibat paparan panas.

Memasuki Minggu (5/7/2026), badan meteorologi setempat melaporkan pusat gelombang panas mulai bergeser dari wilayah timur laut dan Midwest menuju kawasan Mid-Atlantic serta bagian tenggara Amerika Serikat.

Meski demikian, otoritas tetap mengimbau masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan, memperbanyak konsumsi air, dan segera mencari tempat teduh apabila mulai merasakan gejala kelelahan akibat panas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia