AS Belum Siap Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz, Fokus Hancurkan Kemampuan Militer Iran

AKURAT.CO SUMSEL Amerika Serikat menyatakan belum siap mengawal kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz karena seluruh kekuatan militernya saat ini difokuskan untuk operasi melawan Iran.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengatakan Angkatan Laut AS masih memprioritaskan operasi militer yang bertujuan melemahkan kemampuan ofensif Iran beserta industri yang mendukungnya.
“Pengawalan kapal tanker akan dilakukan dalam waktu dekat, tetapi belum bisa dimulai sekarang,” kata Wright dalam wawancara dengan CNBC.
“Saat ini semua aset militer kami difokuskan untuk menghancurkan kemampuan ofensif Iran dan industri yang mendukung kemampuan tersebut.”
Ia menambahkan misi pengawalan kapal tanker kemungkinan baru dapat dimulai pada akhir bulan ini.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk setelah Iran dilaporkan melakukan sejumlah serangan terhadap kapal-kapal internasional di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Ramai Isu PM Israel Tewas, Dimana Netanyahu Usai Serang Iran?
Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, disebut tetap bertekad menutup jalur tersebut bagi lalu lintas maritim internasional.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 3 Maret menyatakan Angkatan Laut AS akan segera mengawal kapal tanker yang melewati Selat Hormuz “secepat mungkin”.
Penundaan misi pengawalan hingga akhir bulan ini diperkirakan akan menambah tekanan terhadap pasar energi global yang sudah terdampak konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut juga menandakan potensi konflik berkepanjangan dalam beberapa pekan ke depan.
Sejumlah analis menilai pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh bahkan bisa memerlukan operasi militer darat untuk menguasai garis pantai Iran di sekitar selat tersebut.
Peneliti senior Middle East Institute, Brian Katulis, mengatakan langkah strategis seperti membuka jalur pelayaran dan mengamankan sisa stok nuklir Iran berpotensi membutuhkan pengerahan pasukan darat jika upaya diplomatik gagal.
“Kita bisa menghadapi situasi yang sangat kompleks,” kata Katulis kepada The Wall Street Journal.
Risiko militer dan ancaman ranjau laut
Misi pengawalan tanker di Selat Hormuz dinilai memiliki risiko tinggi. Konvoi kapal dagang yang dilindungi kapal perang serta kapal penyapu ranjau akan menghadapi ancaman rudal anti-kapal yang dapat diluncurkan dari daratan Iran.
Ancaman tersebut juga menjadi salah satu alasan munculnya wacana operasi militer di sepanjang pesisir Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, militer Amerika Serikat juga berupaya menghancurkan kemampuan Iran dalam menanam ranjau laut. Namun Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengatakan terdapat indikasi Iran mulai menempatkan ranjau di kawasan selat tersebut.
Menurut Healey, upaya pembersihan ranjau di tengah konflik bersenjata akan sangat sulit sehingga langkah deeskalasi menjadi cara paling efektif untuk membuka kembali jalur pelayaran.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut kapal tanker berbendera Iran dan China masih melintasi selat itu, yang menurutnya menunjukkan jalur tersebut kemungkinan belum sepenuhnya dipasangi ranjau.
Serangan terhadap kapal komersial
Di tengah ketegangan tersebut, sejumlah serangan terhadap kapal komersial juga dilaporkan terjadi di kawasan Teluk.
Dua kapal dilaporkan terbakar di perairan Irak pada Jumat, sehingga pemerintah Irak menghentikan sementara seluruh aktivitas di pelabuhan minyaknya.
Perusahaan keamanan maritim Ambrey menyebut sebuah tanker minyak mentah berbendera Malta dan kapal dagang lain diserang di wilayah Al Basrah Anchorage. Dalam insiden tersebut satu orang dilaporkan tewas dan 38 awak kapal berhasil diselamatkan.
Otoritas pemasaran minyak Irak mengidentifikasi kedua kapal tersebut sebagai tanker minyak mentah Safesea Vishnu serta kapal tanker kimia dan minyak Zefyros.
Korps Garda Revolusi Iran menyatakan Safesea Vishnu dianggap sebagai aset militer Amerika Serikat dan diserang setelah kapal tersebut disebut mengabaikan peringatan dari angkatan laut Iran.
Selain itu, sebuah kapal kontainer juga dilaporkan terkena proyektil sekitar 38 mil laut di utara-timur laut Jebel Ali, Uni Emirat Arab. Serangan tersebut memicu kebakaran kecil namun seluruh awak kapal dilaporkan selamat.
Serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi dan jalur pelayaran di kawasan Teluk turut mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent kembali menembus angka 100 dolar AS per barel.
Untuk meredakan kekhawatiran pasar terkait pasokan global, International Energy Agency memerintahkan pelepasan cadangan minyak pemerintah dalam jumlah besar, yang disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.
Sementara itu di Eropa, pemerintah Denmark bahkan meminta warganya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk mengantisipasi dampak krisis energi.
Presiden Donald Trump menegaskan prioritas utama pemerintahannya tetap mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meskipun konflik tersebut berdampak terhadap perdagangan minyak global.
“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia. Ketika harga naik, kami memperoleh banyak pemasukan,” tulis Trump di platform Truth Social.
“Namun yang jauh lebih penting adalah menghentikan Iran memiliki senjata nuklir.”
Konflik yang berlangsung juga menimbulkan biaya besar bagi Washington. Pejabat pemerintahan AS memperkirakan dalam enam hari pertama operasi militer terhadap Iran, Amerika Serikat telah menghabiskan sedikitnya 11,3 miliar dolar AS.
Sementara itu militer Israel menyatakan telah menyerang fasilitas nuklir Taleghan di kompleks militer Parchin yang berada di dekat Teheran. Israel menilai fasilitas tersebut digunakan Iran untuk eksperimen yang berkaitan dengan pengembangan senjata nuklir.
Di sisi lain, kelompok Hezbollah dilaporkan meluncurkan sekitar 200 roket dan 20 drone dari wilayah Lebanon menuju Israel pada Kamis malam.
Serangan dan operasi militer dari berbagai pihak menunjukkan konflik di kawasan Timur Tengah masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









