Rupiah Melemah, Pemerintah Gaspol Diversifikasi Pembiayaan dan Kurangi Ketergantungan Dolar

AKURAT.CO SUMSEL Tekanan terhadap rupiah kembali terasa. Di tengah penguatan dolar AS secara global, pemerintah bergerak cepat dengan menyiapkan strategi baru untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintah telah berkoordinasi erat dengan Bank Indonesia untuk memperluas skema pembiayaan dan kerja sama mata uang lintas negara.
“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait swap currency dengan China, Jepang, Korea, dan negara lain,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Rupiah Tertekan, Bukan Sekadar Faktor Domestik
Data pasar menunjukkan rupiah melemah tipis 11 poin atau 0,07% ke level Rp17.405 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.394.
Pemerintah menilai pelemahan ini bukan semata-mata karena faktor dalam negeri, melainkan dampak dari penguatan dolar AS yang menekan banyak mata uang negara berkembang.
Kondisi global memang sedang tidak bersahabat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong investor global memburu aset safe haven seperti dolar AS, yang secara historis selalu memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Pemkot Palembang Kawal Kasus Kekerasan Seksual Anak di Gandus, Polisi Lakukan Penyelidikan Intensif
Strategi Baru: SBN Non-Dolar dan Swap Currency
Sebagai respons, pemerintah mulai menggenjot diversifikasi pembiayaan. Salah satu langkah kunci adalah memperluas penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dalam mata uang selain dolar AS, seperti yuan China dan yen Jepang.
“Ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait surat berharga yang bisa diterbitkan, termasuk dari China ataupun yen untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS,” jelas Airlangga.
Selain itu, penguatan kerja sama bilateral melalui skema swap currency juga terus diperluas. Strategi ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak krisis keuangan global 2008, Bank Indonesia telah memanfaatkan kerja sama serupa sebagai bantalan likuiditas.
Namun kali ini, langkah tersebut terlihat lebih agresif sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Lonjakan Permintaan Dolar Musiman
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipicu faktor musiman. Kebutuhan devisa meningkat seiring pelaksanaan ibadah haji serta pembayaran dividen korporasi yang biasanya memuncak di kuartal kedua.
“Biasanya pada saat ibadah haji dan kuartal kedua ada pembayaran dividen, jadi demand terhadap dolar AS tinggi,” kata Airlangga.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah bisa berdampak langsung. Harga barang impor berpotensi naik, biaya perjalanan luar negeri meningkat, hingga tekanan inflasi bisa muncul jika tren berlanjut.
Meski begitu, pemerintah memastikan kebijakan yang diambil bersifat fleksibel dan adaptif terhadap dinamika global.
“Kebijakan ini dinamis dan terus disesuaikan dengan perkembangan global,” tegas Airlangga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bansos PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Aturan Jadwal, Besaran Nominal hingga Cara Cek Penerima
- 2Jadwal Timnas Indonesia Vs Vietnam, Laga Penentu Tiket Semifinal Piala AFF U 19 2026
- 3Harga Karet Sumsel Tembus Rp41 Ribu per Kg, Petani Nikmati Kenaikan Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
- 4Kapan PIP Kemendikdasmen Juni 2026 Cair? Pantau Jadwal Penyaluran Termin 2 di Sini
- 5Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia 2026 dengan Jam Tayang WIB
- 6Daftar Harga BBM Terbaru di Sumsel, Dexlite dan Pertamina Dex Turun Lagi
- 7Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 10 Juni 2026, Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter
- 85 Tuntutan Mahasiswa dalam Demo di Bundaran HI Jakarta Hari Ini
- 9Vivo S60 Series Resmi Meluncur, Usung Baterai 7.200mAh dan Layar 144Hz
- 10Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem








