Harga Sawit Turun, Petani Sumsel Mulai Resah: Ini Penyebab Utamanya

AKURAT.CO SUMSEL Penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai dirasakan petani di sejumlah wilayah Sumatra Selatan.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan petani karena dikhawatirkan harga akan terus merosot dan berdampak pada pendapatan mereka.
Meski demikian, pelaku industri sawit meminta petani tidak terburu-buru panik. Penurunan harga saat ini dinilai lebih dipengaruhi dinamika pasar global daripada menurunnya permintaan terhadap komoditas sawit.
Ketua Forum Sawit Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan permintaan minyak sawit dunia hingga kini masih tergolong tinggi. Produk turunan sawit masih menjadi kebutuhan utama berbagai sektor industri, mulai dari pangan hingga energi.
"Permintaan masih ada dan tetap besar. Yang terjadi sekarang lebih kepada penyesuaian pasar setelah harga sawit sebelumnya berada pada level yang cukup tinggi," ujarnya, Sabtu (30/5/2026).
Menurut Rudi, salah satu faktor yang menekan harga sawit adalah meningkatnya produksi di negara produsen utama, yakni Indonesia dan Malaysia. Bertambahnya pasokan membuat harga di pasar internasional mengalami koreksi.
Selain itu, melemahnya harga minyak dunia juga ikut memengaruhi harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah.
Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global membuat sejumlah negara lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian komoditas dalam jumlah besar.
Persaingan dengan minyak nabati lain seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari juga turut memberikan tekanan terhadap harga sawit di pasar dunia.
Meski harga sedang mengalami tren penurunan, Rudi mengingatkan petani agar tetap fokus menjaga produktivitas kebun. Ia menilai keputusan mengurangi biaya perawatan secara berlebihan justru dapat merugikan petani dalam jangka panjang.
"Jangan sampai karena harga turun lalu pemupukan dikurangi secara drastis. Itu bisa berdampak pada hasil panen beberapa bulan ke depan," katanya.
Ia menyarankan petani melakukan efisiensi pada biaya operasional yang tidak terlalu penting, namun tetap mempertahankan perawatan tanaman agar produktivitas kebun tetap terjaga.
Selain itu, petani juga didorong memperkuat kelembagaan melalui koperasi maupun kelompok tani. Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan posisi tawar petani saat menjual hasil panen ke pabrik pengolahan sawit.
Di tengah tekanan harga saat ini, Rudi optimistis industri sawit nasional masih memiliki prospek yang menjanjikan. Tingginya kebutuhan biodiesel dalam negeri diyakini dapat menjadi penopang permintaan sawit dalam beberapa tahun ke depan.
"Harga sawit memang selalu bergerak mengikuti siklus pasar. Ada masa naik dan ada masa turun. Yang penting petani tetap tenang, menjaga produktivitas, dan tidak mengambil keputusan karena kepanikan," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bansos PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Aturan Jadwal, Besaran Nominal hingga Cara Cek Penerima
- 2Jadwal Timnas Indonesia Vs Vietnam, Laga Penentu Tiket Semifinal Piala AFF U 19 2026
- 3Harga Karet Sumsel Tembus Rp41 Ribu per Kg, Petani Nikmati Kenaikan Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
- 4Kapan PIP Kemendikdasmen Juni 2026 Cair? Pantau Jadwal Penyaluran Termin 2 di Sini
- 5Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia 2026 dengan Jam Tayang WIB
- 6Daftar Harga BBM Terbaru di Sumsel, Dexlite dan Pertamina Dex Turun Lagi
- 7Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 10 Juni 2026, Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter
- 85 Tuntutan Mahasiswa dalam Demo di Bundaran HI Jakarta Hari Ini
- 9Vivo S60 Series Resmi Meluncur, Usung Baterai 7.200mAh dan Layar 144Hz
- 10Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem








