Sumsel
HL Sumsel

Bulog Pastikan Stok Beras Sumsel Aman, Banyuasin hingga OKI Jadi Penopang Utama

Kurnia | 18 Mei 2026, 15:30 WIB
Bulog Pastikan Stok Beras Sumsel Aman, Banyuasin hingga OKI Jadi Penopang Utama
beras

AKURAT.CO SUMSEL Ketahanan pangan di Sumatera Selatan (Sumsel) tidak hanya bergantung pada hasil panen petani, tetapi juga pada kelancaran distribusi gabah dan beras hingga sampai ke masyarakat.

Perum Bulog Kantor Wilayah Sumsel Babel menjadi salah satu pihak yang berperan menjaga stabilitas rantai pangan tersebut agar tetap aman dan terkendali.

Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel, Ihsan, mengatakan Bulog mendapat tugas pemerintah untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan nasional sesuai Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026.

“Sesuai Inpres Nomor 4 Tahun 2026, pemerintah melakukan penyerapan gabah dan beras dalam negeri untuk menjaga ketersediaan cadangan beras pemerintah,” ujar Ihsan, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, beras hasil serapan nantinya disalurkan melalui program bantuan pangan dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) agar harga tetap terjangkau di masyarakat.

Baca Juga: Idul Adha 2026 Kompak Serentak, Pemerintah dan Muhammadiyah Tetapkan Lebaran Kurban pada 27 Mei

Menurut Ihsan, proses penyerapan gabah hingga distribusi beras menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di Sumsel.

Saat ini Bulog sudah diperbolehkan membeli Gabah Kering Panen (GKP) langsung dari petani sebelum diproses menjadi beras siap simpan.

“GKP tidak bisa disimpan terlalu lama, sehingga Bulog bekerja sama dengan penggilingan padi untuk proses pengeringan dan pengolahan,” katanya.

Setelah melalui proses pengeringan dan penggilingan, beras kemudian disimpan di gudang Bulog sebelum disalurkan sesuai kebutuhan pemerintah.

Ihsan menyebut tiga daerah terbesar penyumbang serapan gabah di Sumsel berasal dari Kabupaten Banyuasin, OKU Timur, dan OKI.

Ketiga wilayah tersebut dinilai menjadi penopang utama pasokan beras di Sumatera Selatan.

Meski stok beras dalam kondisi aman, Bulog mengakui distribusi pangan di Sumsel masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama kondisi geografis wilayah yang banyak didominasi sungai dan perairan.

Selain itu, keterbatasan fasilitas pascapanen seperti mesin pengering gabah juga masih menjadi kendala di lapangan.

Saat ini kapasitas gudang Bulog Sumsel Babel mencapai 194.232 ton, sedangkan stok beras yang tersedia tercatat sekitar 104.839 ton.

Ihsan memastikan cadangan beras pemerintah di wilayah Sumsel dan Bangka Belitung masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Namun Bulog tetap siaga mengantisipasi potensi kenaikan harga beras di pasaran.

“Kalau harga mulai naik, kami harus sigap dan quick response untuk menanggulangi gejolak harga,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas harga, Bulog menjalankan program SPHP melalui operasi pasar, toko penyaluran SPHP, Rumah Pangan Kita (RPK), hingga Gerakan Pangan Murah (GPM) bekerja sama dengan TNI, Polri, dan pemerintah daerah.

Selain menjaga stok, Bulog juga rutin melakukan perawatan kualitas beras di gudang melalui penyemprotan dan fumigasi agar kualitas tetap terjaga selama penyimpanan.

Menurut Ihsan, stok beras yang terlalu lama disimpan berisiko mengalami penurunan kualitas. Karena itu, Bulog menyiapkan proses ulang menggunakan mesin polisher dan sorter agar beras tetap layak konsumsi.

Ia juga menilai ancaman krisis pangan global terhadap Indonesia saat ini relatif kecil karena pemerintah memiliki cadangan beras yang cukup besar.

“Dengan stok beras yang sangat tinggi, risiko Indonesia terhadap krisis pangan global bisa dikatakan nihil,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia