Sumsel Masuk 10 Besar Kasus Scam Nasional, OJK Ingatkan Kecepatan Lapor Jadi Kunci Dana Kembali

AKURAT.CO SUMSEL Kasus penipuan daring atau scamming di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan.
Sumatera Selatan kini berada di posisi kesembilan nasional dengan catatan lebih dari 8.000 laporan kasus scam hingga awal Maret 2026.
Merespons fenomena ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia (BI) dan kepolisian melalui tim Indonesia Anti-Scam Center (IASC) memperkuat sinergi untuk mengedukasi masyarakat mengenai langkah darurat saat terjebak penipuan online.
Deputi Komisioner Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) dan Perlindungan Konsumen OJK, Rizal Ramadhani, menekankan bahwa kunci utama penyelamatan dana korban scam adalah kecepatan melapor.
Menurutnya, pelaku penipuan hanya membutuhkan waktu hitungan detik untuk memindahkan dana hasil kejahatannya.
Baca Juga: Kejar Target Rp50 Miliar, Baznas Sumsel Sisir 30 Persen ASN yang Belum Salurkan Zakat
"Kecepatan laporan menentukan kesuksesan dana kembali. Dana korban scam bisa pindah dalam hitungan 10 menit, bahkan ada yang tercepat hanya 3 detik," ungkap Rizal dalam konferensi pers di Kantor OJK Sumbagsel, Rabu (4/3/2026).
Jika laporan diterima dengan cepat, tim IASC dapat segera berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk menghubungkan sistem penelusuran dengan program BI-FAST guna melakukan pemblokiran atau pelacakan aliran dana.
Jika menjadi korban penipuan, masyarakat diimbau tetap tenang dan segera melakukan langkah darurat guna menghentikan aliran dana pelaku. Langkah utama adalah menghubungi Call Center OJK 157 untuk pengaduan konsumen jasa keuangan atau melalui saluran cepat Polri 110 yang terintegrasi dengan tim IASC.
Selain itu, laporan mandiri dapat segera dilakukan melalui laman resmi iasc.ojk.go.id untuk mempercepat proses pelacakan oleh pihak berwenang.
Selain ketiga saluran di atas, korban juga sangat disarankan segera menghubungi pihak perbankan terkait (baik bank Himbara maupun swasta) untuk membekukan rekening nasabah yang terdampak.
Rizal menambahkan, modus scam saat ini kian beragam, mulai dari pengiriman pesan singkat, manipulasi di e-commerce, hingga penyalahgunaan Artificial Intelligence (AI). Bahkan, serangan siber kini mulai menyasar aset kripto dan keuangan digital lintas negara.
"Penanganan kasus siber berskala internasional kini melibatkan kementerian luar negeri, Interpol, hingga kejaksaan karena pelakunya seringkali beroperasi dari luar negeri," jelasnya.
Salah satu keberhasilan terbaru IASC adalah pengembalian dana korban scam di Kabupaten Lahat, Sumsel.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Jadwal Pencairan Bansos Tahap 3 Agustus 2026: PKH, BPNT, BLT Kesra Rp900.000
- 2Apakah Besok 18 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama HUT RI ke 81? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 3Pelajar 15 Tahun Dikeroyok hingga Dibacok di Palembang, Pelaku Disebut dari 5 Sekolah
- 4PKH Tahap 3 Cair Agustus 2026, Cek Penerima Cukup Pakai NIK KTP
- 5Jadwal Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 di Plaza 7 Ulu Palembang
- 6Daftar Wilayah Terdampak Pemadaman Listrik PLN Palembang Sabtu 15 Agustus 2026
- 7Balasan Menohok Iran Usai Trump Nyatakan Bakal Deklarasikan Selat Hormuz Milik AS
- 8Video Pengeroyokan Pelajar Beredar, Polisi Cek TKP di Demang Lebar Daun Palembang
- 95.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu
- 10Kata BMKG Soal Narasi Musim Kemarau 2026 Akan Jadi yang Terparah Sepanjang 30 Tahun





