Sumsel
HL Sumsel

Dokter Muda di Cianjur Meninggal Dunia Diduga Akibat Campak Berat, Alami Demam hingga Sesak Napas

Septiyanti Dwi Cahyani | 27 Maret 2026, 17:45 WIB
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Dunia Diduga Akibat Campak Berat, Alami Demam hingga Sesak Napas
Ilustrasi penyakit campak.

AKURAT. CO SUMSEL - Lonjakan kasus penyakit Campak masih terjadi di Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan, sebanyak 72 kematian terjadi akibat Campak sepanjang 2025-2026.

Kemudian hari ini, masyarakat kembali digegerkan dengan kabar meninggalnya seorang dokter muda di Cianjur diduga karena terkena penyakit Campak.

Baca Juga: Polisi Tertibkan Truk ODOL di Palembang, 80 Kendaraan Berat Terjaring saat Arus Balik

Berikut serangkaian fakta-faktanya yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber.

Alami Demam hingga Sesak Napas Berat

Dokter muda itu bernama Andito Mohammad Wibisono alias AMW (26).

Baca Juga: Dituduh Mencuri, Driver Ojol di Palembang Dikeroyok hingga Babak Belur

AMW dilaporkan meninggal dalam tugasnya sebagai dokter internship di RSUD Cimacan dan merupakan lulusan FKUI 2025.

Berdasarkan penjelasan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman, almarhum disebut mengalami beberapa gejala campak sebelum akhirnya meninggal dunia.

Yaitu berupa demam, ruam merah, serta sesak napas berat. Merujuk hasil investigasi sementara, pasien mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatannya.

Baca Juga: Libur Lebaran Membludak! OPI Water Fun Diserbu Ribuan Pengunjung, Antrean Mengular Sejak Pagi

Pihak RSUD Cimacan telah melakukan penanganan medis sesuai standar pada 26 Maret 2026.

Namun, AMW akhrinya dinyatakan meninggal setelah mendapat perawatan maksimal.

Kemenkes Lakukan Penelusuran Sumber Penularan

Baca Juga: Viral Klien BNN Prabumulih Diduga Minum Cairan Pembersih, Ini Penjelasan Resmi dan Respons Keluarga

Atas kasus ini, Kemenkes pun melakukan penelusuran terhadap sumber penularan campak yang diduga menyebabkan meninggalnya dokter internship di Cianjur itu.

Ia menjelaskan, tim kesehatan akan turun langsung ke lapangan untuk menelusuri kontak erat pasien, mengidentifikasi kemungkinan sumber penularan, serta melakukan penilaian risiko di lingkungan sekitar.

Selain itu, tim juga akan memberikan vitamin A kepada kelompok rentan sebagai upaya meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah penularan yang lebih luas di wilayah setempat.

Baca Juga: Heboh Diduga Ada Tuyul, Uang Warga Jakabaring Palembang Sering Hilang Sejak 3 Tahun Silam

Apa Itu Campak?

Penyakit campak adalah penyakit infeksi saluran napas yang disebabkan oleh morbillivirus.

Penularan penyakit dampak dari satu pasien ke orang lain dapat terjadi melalui percikan ludah yang keluar saat penderita berbicara, batuk, ataupun bersin.

Baca Juga: Elkan Baggott Kaget! Timnas Indonesia Kini Naik Level Berkat Pemain Eropa

Virus campak juga bisa menyebar melalui udara (airborne) hingga sentuhan dengan benda terkontaminasi.

Tanpa kontak fisik, proses penularan masih bisa terjadi.

Gejala Penyakit Campak

Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Palembang Stabil di Angka Rp15 Jutaan dalam Sepekan, Saatnya Beli Atau Jual?

Tanda-tanda penyakit campak kerap tidak langsung dikenali karena mirip dengan infeksi pernapasan seperti batuk, pilek, atau demam biasa.

Dengan rata-rata 10 hari masa inkubasi, berikut gejala campak yang sering muncul pada penderita:

  • Demam tinggi yang umumnya hari ke-15 setelah terpapar

Baca Juga: Samsung Galaxy A56 Resmi Hadir: Layar Lebih Besar, Lebih Tipis, Performa Naik Tanpa Harga Ikut Melonjak

  • Batuk dan pilek

  • Gatal-gatal yang kadang disertai oleh diare

  • Ruam merah makulopapular (muncul hari ke-18)

  • Mata menjadi merah atau konjungtivitis.

Baca Juga: Daftar Harga Pangan Nasional Hari Ini, Cabai Rawit Merah Turun ke Level Rp81.950 per Kilogram

Risiko dan Komplikasi Penyakit Campak

Kemenkes menyebut, kelompok yang paling rentan dan berisiko terkena Campak adalah anak yang belum atau tidak lengkap Imunisasi Campak-Rubella (MR) dan status gizi yang kurang baik.

Jika dibiarkan, penyakit campak juga bisa berujung pada komplikasi penyakit berat. Seperti sesak napas akibat radang paru (Pneumonia), kejang akibat radang otak (Ensefalitis), dehidrasi akibat diare berat, kerusakan otak progresif seperti Panansefalitis Sklerosis Subakut, hingga kematian. (*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.