Sumsel

El Nino Menguat, BMKG: Kemarau di Sumsel Diperkirakan Berlangsung hingga Pertengahan Oktober

Kurnia | 1 Agustus 2026, 15:00 WIB
El Nino Menguat, BMKG: Kemarau di Sumsel Diperkirakan Berlangsung hingga Pertengahan Oktober
Kemarau

AKURAT.CO SUMSEL Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.

Peringatan itu menyusul menguatnya fenomena El Nino yang kini berada pada kategori kuat.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan puncak musim kemarau di wilayah Sumsel diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026.

Sementara itu, musim kemarau diprediksi masih akan berlangsung sampai pertengahan Oktober.

Meski El Nino berpotensi meningkat ke kategori sangat kuat, BMKG memperkirakan dampak kemarau tahun ini tidak akan separah peristiwa El Nino ekstrem yang terjadi pada 1997 maupun 2015.

"El Nino saat ini berada pada level kuat dan masih berpotensi meningkat. Namun, berdasarkan hasil analisis BMKG, musim kemarau tahun ini diprakirakan tidak sekering kondisi pada 1997 maupun 2015," kata Wandayantolis.

Ia menjelaskan, peluang hujan masih ada selama musim kemarau. Namun, intensitasnya diperkirakan rendah sehingga belum mampu mengurangi risiko munculnya titik panas secara signifikan.

Baca Juga: Karhutla Kembali Merebak di Sumsel, Manggala Agni Berjibaku Padamkan Api di Enam Titik

BMKG juga mencatat sejumlah wilayah di Sumsel telah mengalami hari tanpa hujan (HTH) lebih dari 40 hari.

Meski begitu, sebagian besar daerah saat ini berada pada kisaran enam hingga sepuluh hari tanpa hujan setelah hujan yang turun pada akhir Juli memutus rangkaian HTH di banyak wilayah.

Hujan tersebut merupakan dampak dari pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang dilakukan pada 19–30 Juli 2026.

Di sisi lain, BMKG mencatat akumulasi curah hujan selama Juli 2026 di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan masih berada di bawah kondisi normal. Artinya, jumlah hujan yang turun lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis untuk periode yang sama.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi karhutla, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September.

BMKG juga mengingatkan seluruh pihak untuk menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran lahan, mengingat cuaca kering diperkirakan masih akan mendominasi hingga beberapa bulan ke depan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia