Sumsel

Kasus TBC di Sumsel Tembus 9.548 hingga Juni 2026, Palembang Penyumbang Terbanyak dan 366 Pasien Meninggal

Kurnia | 30 Juli 2026, 17:12 WIB
Kasus TBC di Sumsel Tembus 9.548 hingga Juni 2026, Palembang Penyumbang Terbanyak dan 366 Pasien Meninggal
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan serius di Sumatera Selatan (Sumsel).

Hingga akhir Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat sebanyak 9.548 kasus TBC dengan 366 pasien meninggal dunia. Kota Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus sekaligus angka kematian tertinggi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengatakan hampir sepertiga dari seluruh kasus TBC di Sumsel berasal dari Palembang.

"Kasus TBC terbanyak tercatat di Palembang dengan 2.816 kasus atau hampir 30 persen dari total kasus di Sumatera Selatan hingga Juni 2026," ujarnya.

Berdasarkan data Dinkes Sumsel, jumlah kasus tertinggi sepanjang semester pertama 2026 terjadi pada Januari dengan 1.851 kasus, disusul April sebanyak 1.821 kasus. Sementara Maret menjadi bulan dengan jumlah kasus terendah, yakni 1.369 kasus.

Setelah Palembang, jumlah kasus terbanyak tercatat di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 783 kasus, Muara Enim 747 kasus, Musi Banyuasin 586 kasus, Lubuklinggau 580 kasus, dan Banyuasin 570 kasus.

Sementara itu, daerah lain juga masih mencatat ratusan kasus, di antaranya OKU Timur 477 kasus, Empat Lawang 415 kasus, OKU 392 kasus, Lahat 363 kasus, Musi Rawas 335 kasus, Ogan Ilir 308 kasus, Prabumulih 302 kasus, OKU Selatan 287 kasus, Musi Rawas Utara 235 kasus, serta PALI dan Pagar Alam masing-masing 176 kasus.

Baca Juga: Gegara Teguran Soal Cucu Sekolah Online, Pria di Palembang Dilaporkan Ibu Kandungnya

Tidak hanya mencatat kasus tertinggi, Palembang juga menjadi wilayah dengan angka kematian akibat TBC paling tinggi, yakni mencapai 137 orang.

Di bawahnya terdapat Musi Banyuasin dengan 29 kematian, Muara Enim 26 orang, Lahat 22 orang, OKI 21 orang, Ogan Ilir 20 orang, serta Banyuasin dan OKU Timur masing-masing 19 orang.

Lubuklinggau mencatat 12 kematian, Musi Rawas 10 orang, sedangkan OKU, OKU Selatan, dan Prabumulih masing-masing sembilan orang. Pagar Alam mencatat delapan kematian, Empat Lawang tujuh orang, Musi Rawas Utara lima orang, dan PALI empat orang.

Dinkes Sumsel berharap angka kasus TBC pada 2026 dapat ditekan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, jumlah kasus TBC di Sumsel mencapai 24.748 kasus, namun baru sekitar 65,34 persen pasien yang menjalani pengobatan sesuai estimasi kasus.

Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinkes Sumsel terus memperkuat skrining dan investigasi kontak terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC. Langkah tersebut dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan hingga tes dahak bagi kontak erat agar penularan dapat diputus sedini mungkin.

Selain memperluas penemuan kasus secara aktif, Dinkes juga mengingatkan pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan hingga tuntas.

"Pengobatan yang tidak selesai dapat meningkatkan risiko kematian sekaligus memperbesar peluang penularan kepada orang lain," kata Ira.

Ia menegaskan, TBC bukan penyakit keturunan, melainkan penyakit infeksi yang menyebar melalui percikan udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Menurutnya, meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan juga menunjukkan bahwa upaya deteksi dini semakin efektif, sehingga lebih banyak penderita dapat segera memperoleh pengobatan dan mencegah penularan yang lebih luas.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia