Hujan di Palembang Saat Musim Kemarau Dipengaruhi Kondisi Atmosfer dan Operasi Modifikasi Cuaca

AKURAT.CO SUMSEL Hujan yang mengguyur Kota Palembang pada Rabu (22/7/2026) di tengah musim kemarau dipengaruhi oleh kombinasi kondisi atmosfer yang mendukung serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Sumatera Selatan.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa hujan yang terjadi bukan semata-mata akibat penyemaian awan, melainkan hasil interaksi antara fenomena atmosfer alami dengan pelaksanaan OMC yang berlangsung sejak 19 Juli hingga akhir Juli 2026.
"Secara analisis, hujan yang terjadi merupakan efek kombinasi antara dinamika atmosfer dan kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca yang dilaksanakan di Sumatera Selatan," kata Siswanto, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, berdasarkan hasil pemantauan BMKG, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini sedang aktif di wilayah Sumatera Selatan. Kondisi tersebut meningkatkan aktivitas konvektif sehingga memicu pertumbuhan awan hujan.
Baca Juga: OJK: Dana Kredit yang Belum Dicairkan Capai Rp2.575 Triliun, Jadi Modal Ekspansi Dunia Usaha
Selain itu, suhu permukaan laut di sekitar perairan Sumatera Selatan yang relatif hangat turut meningkatkan proses penguapan dan suplai uap air ke atmosfer.
Faktor lain yang mendukung terbentuknya hujan adalah tingginya kelembapan udara pada lapisan bawah hingga menengah serta tingkat labilitas atmosfer yang berada pada kategori ringan hingga sedang, terutama pada siang hingga malam hari.
"Kombinasi berbagai faktor tersebut menciptakan kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan konvektif sehingga berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang," ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah tengah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca untuk mengoptimalkan potensi hujan melalui penyemaian bahan semai pada awan yang memenuhi syarat operasional.
Langkah tersebut bertujuan mempercepat pembentukan butir air di dalam awan sehingga peluang turunnya hujan menjadi lebih besar.
Pada 22 Juli 2026, tim OMC melaksanakan tiga sorti penerbangan penyemaian. Sorti pertama dilakukan di wilayah Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, sorti kedua menyasar Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), sedangkan sorti ketiga dilakukan di wilayah OKI dan Kabupaten Ogan Ilir.
Berdasarkan pemantauan BMKG, pertumbuhan awan potensial hujan di wilayah OKI dan Ogan Ilir berlangsung cukup baik sehingga menjadi sasaran utama penyemaian.
Siswanto mengatakan, arah angin saat itu juga membawa massa udara dan awan dari wilayah OKI serta Ogan Ilir bergerak ke arah barat laut menuju Kota Palembang dan sekitarnya.
Dengan kondisi tersebut, hujan yang terjadi di Palembang merupakan hasil perpaduan antara proses atmosfer alami dan pengoptimalan awan melalui Operasi Modifikasi Cuaca.
BMKG menilai, selama kondisi atmosfer tetap mendukung, kegiatan OMC dapat membantu meningkatkan peluang terjadinya hujan pada awan yang telah terbentuk.
Operasi tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang biasanya meningkat pada musim kemarau di Sumatera Selatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Jadwal Pencairan Bansos Tahap 3 Agustus 2026: PKH, BPNT, BLT Kesra Rp900.000
- 2Apakah Besok 18 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama HUT RI ke 81? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 3Pelajar 15 Tahun Dikeroyok hingga Dibacok di Palembang, Pelaku Disebut dari 5 Sekolah
- 4PKH Tahap 3 Cair Agustus 2026, Cek Penerima Cukup Pakai NIK KTP
- 5Jadwal Festival Perahu Bidar Tradisional 2026 di Plaza 7 Ulu Palembang
- 6Daftar Wilayah Terdampak Pemadaman Listrik PLN Palembang Sabtu 15 Agustus 2026
- 7Balasan Menohok Iran Usai Trump Nyatakan Bakal Deklarasikan Selat Hormuz Milik AS
- 8Video Pengeroyokan Pelajar Beredar, Polisi Cek TKP di Demang Lebar Daun Palembang
- 95.303 Jemaah Haji Debarkasi Palembang Sudah Kembali, Empat Kloter Masih Ditunggu
- 10Kata BMKG Soal Narasi Musim Kemarau 2026 Akan Jadi yang Terparah Sepanjang 30 Tahun








