Sumsel

El Nino Menguat, Sumsel Masuk Fase Rawan Karhutla dan Kekeringan

Kurnia | 21 Juli 2026, 14:49 WIB
El Nino Menguat, Sumsel Masuk Fase Rawan Karhutla dan Kekeringan
Ilustrasi

AKURAT.CO SUMSEL Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) diminta meningkatkan kewaspadaan seiring menguatnya fenomena El Niño yang berpotensi memicu musim kemarau lebih kering tahun ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai kondisi tersebut bisa meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta krisis air di sejumlah wilayah.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengatakan penguatan El Nino terlihat dari anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang telah melampaui ambang batas.

Hingga awal Juli 2026, kenaikan suhu bahkan mendekati 2 derajat Celsius di atas normal.

Baca Juga: Laporan PWI terhadap H Resmi Diterima Polda Metro Jaya, Polisi Lakukan Pendalaman

“Ini menjadi indikator kuat bahwa El Niño sudah aktif dan berpotensi menekan curah hujan di wilayah Indonesia, termasuk Sumsel,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Menurut dia, dampak paling nyata dari fenomena ini adalah berkurangnya pembentukan awan hujan.

Kondisi tersebut membuat intensitas hujan menurun, sehingga memperbesar peluang terjadinya kekeringan, terutama di wilayah yang selama ini rentan.

Tak hanya itu, efek lanjutan dari minimnya hujan juga berdampak pada sektor vital. Ketersediaan air baku diperkirakan menurun, kelembapan tanah berkurang, hingga produktivitas pertanian berisiko terganggu.

“Situasi ini juga meningkatkan potensi karhutla karena lahan menjadi lebih kering dan mudah terbakar,” jelasnya.

BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor.

Pemerintah daerah diminta memperkuat langkah mitigasi, termasuk pemantauan wilayah rawan karhutla dan pengelolaan sumber daya air secara lebih efisien.

Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta lebih bijak dalam menggunakan air selama musim kemarau berlangsung.

“Pemanfaatan informasi iklim harus menjadi dasar dalam perencanaan kegiatan, baik oleh pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat,” kata Wandayantolis.

Dengan potensi musim kemarau yang lebih kering dari biasanya, Sumsel kini memasuki fase krusial.

Upaya pencegahan sejak dini dinilai menjadi kunci untuk menekan dampak yang lebih luas, terutama kebakaran lahan yang kerap berulang setiap tahun.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia