Herman Deru Ingatkan Ancaman Kerusakan Hutan dan Perubahan Iklim di Sumsel

AKURAT.CO SUMSEL Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyoroti semakin langkanya sejumlah jenis kayu khas Sumsel yang dulu mudah ditemukan di kawasan pedesaan.
Di hadapan mahasiswa dan civitas akademika dalam kegiatan Festival Kehutanan, Herman Deru menyebut kayu-kayu bernilai tinggi seperti jelutung, merawan hingga merbau kini mulai sulit dijumpai akibat terus menyusutnya kawasan hutan alami.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal serius bahwa kerusakan lingkungan dan berkurangnya tutupan hutan tidak bisa lagi dianggap persoalan biasa.
“Kalau dulu kayu-kayu seperti ini mudah ditemukan, sekarang semakin langka. Artinya ada perubahan besar pada kondisi hutan kita,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Herman Deru menilai perkembangan teknologi konstruksi saat ini sedikit banyak membantu menekan penggunaan kayu dalam pembangunan.
Kehadiran material alternatif seperti baja ringan, kusen aluminium hingga aluminium composite panel (ACP) dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap hasil hutan.
Baca Juga: DPR Dukung Prabowo Sikat Oknum Aparat Pembeking Kejahatan: Pangkat Tinggi Tak Akan Dilindungi
“Kalau dulu hampir semua bangunan memakai kayu, sekarang sudah banyak alternatif. Ini salah satu bentuk kemajuan teknologi yang membantu menjaga hutan,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan ancaman terhadap lingkungan di Sumsel masih cukup besar, terutama terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di wilayah gambut.
Menurut Herman Deru, sebagian besar kebakaran justru dipicu kelalaian manusia saat membuka lahan atau beraktivitas di kawasan hutan.
Ia bahkan menyinggung pengalaman buruk saat kabut asap dari Sumsel sempat menjadi perhatian negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia akibat masifnya kebakaran hutan beberapa tahun lalu.
“Kita pernah mengalami masa ketika asap menjadi sorotan negara lain. Jangan sampai itu terulang lagi,” tegasnya.
Selain isu kerusakan hutan, Herman Deru juga menyoroti perubahan iklim yang dinilainya semakin sulit diprediksi. Ia mengatakan pola musim saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu ketika musim hujan dan kemarau masih dapat diperkirakan secara jelas.
“Sekarang iklim sudah anomali. Sudah hampir Juni tapi masih hujan. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Herman Deru mengajak kalangan akademisi dan mahasiswa ikut berperan aktif membangun kesadaran lingkungan di tengah masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Bansos PKH Juni 2026 Cair Kapan? Ini Aturan Jadwal, Besaran Nominal hingga Cara Cek Penerima
- 2Jadwal Timnas Indonesia Vs Vietnam, Laga Penentu Tiket Semifinal Piala AFF U 19 2026
- 3Harga Karet Sumsel Tembus Rp41 Ribu per Kg, Petani Nikmati Kenaikan Tertinggi dalam Beberapa Tahun Terakhir
- 4Kapan PIP Kemendikdasmen Juni 2026 Cair? Pantau Jadwal Penyaluran Termin 2 di Sini
- 5Jadwal Siaran Langsung Piala Dunia 2026 dengan Jam Tayang WIB
- 6Daftar Harga BBM Terbaru di Sumsel, Dexlite dan Pertamina Dex Turun Lagi
- 7Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru Berlaku Mulai 10 Juni 2026, Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter
- 85 Tuntutan Mahasiswa dalam Demo di Bundaran HI Jakarta Hari Ini
- 9Vivo S60 Series Resmi Meluncur, Usung Baterai 7.200mAh dan Layar 144Hz
- 10Cuaca Palembang Makin Terik, BMKG Ungkap Penyebab Suhu Terasa Ekstrem








