2,1 Juta Pemilih Tidak Mencoblos di Pilkada Sumsel, Pengamat Sebut Money Politics Jadi Pemicu

AKURAT.CO SUMSEL Pilkada Sumsel kurang mendapat antusiasme masyarakat. Berdasarkan data-pemilu.pages.dev/gubernur dari formulir C yang telah masuk dari 6,3 juta pemilih hanya 4.221.412 dari total 6.382.739 pemilih yang menggunakan hak pilihnya, menunjukkan angka partisipasi yang sangat rendah.
Pengamat politik UIN Raden Fatah Palembang, Yulion Zalpa, menjelaskan bahwa rendahnya partisipasi ini dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor rasional dan pragmatis.
Namun, menurut Yulion, faktor pragmatis lah yang lebih dominan dalam Pilkada kali ini. Banyak pemilih yang memilih berdasarkan iming-iming politik uang, yang memotivasi mereka untuk mendatangi tempat pemungutan suara (TPS).
"Pengaruh politik uang sangat besar. Pada pemilu sebelumnya, seperti Pilpres dan Pileg, hal ini menjadi faktor penentu mereka datang ke TPS. Ketika tidak ada imbalan, banyak yang enggan menyalurkan hak pilihnya," ungkap Yulion, Jumat (29/11/2024).
Selain itu, Yulion juga menyebutkan bahwa ketidakpuasan masyarakat terhadap calon kepala daerah juga menjadi faktor penting. Proses pemilihan calon yang melalui mekanisme partai, yang sempat terhambat sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK), telah menciptakan kesan negatif di mata pemilih.
"Masyarakat merasa jenuh dengan sistem yang ada, karena calon-calon yang dipilih dinilai belum mampu menawarkan solusi konkret bagi permasalahan mereka," katanya.
“Motivasi masyarakat untuk memilih berkurang karena opsi kandidat yang ada tidak memberikan harapan atau solusi yang jelas bagi mereka,” tutup Yulion. (Kurnia)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









