Tangis Pilu Gubernur Aceh Sebut Banjir Bak Tsunami ke 2: Beberapa Kampung Hilang Entah Kemana

AKURAT. CO SUMSEL - Video yang memperlihatkan kepedihan Gubernur Aceh Manaf Muzakir atau Mualem menangis saat menyampaikan sebuah pidato viral di media sosial.
Salah satu pengunggah cuplikan tersebut adalah pemilik akun Instagram @toyamjoper2.
Belum genap sehari diunggah, postingan tersebut telah mendapat lebih dari 5000 komentar dan dibagikan lebih dari 17 ribu kali.
Baca Juga: Produksi Naik 700.000 Ton, Sumsel Minta Kewenangan Ekspor Mandiri untuk Dukung Tanjung Carat
Dalam video tersebut, Muzakir nampak tak kuasa menahan air matanya saat mengatakan ada beberapa kampung yang masih hilang entah kemana akibat banjir yang melanda Aceh pada akhir November lalu.
Lebih lanjut, Gubernur Aceh tersebut menyebut banjir ini seperti tsunami kedua lantaran dampaknya yang begitu dahsyat.
Baca Juga: SAR Palembang Kirim Pasukan Khusus dan Peralatan ke Sumbar, Bantu Evakuasi Korban Banjir Maut
"Ada beberapa kampung hilang entah ke mana bah, yaitu Sawang, Jamboane, Bireuen, dan Peusangan. Malam itu 4 kampung juga tak tahu entah kemana. Jadi, Aceh sekarang Tsunami kedua", ujar Mualem.
Banjir Meluas Hampir ke Seluruh Aceh
Memasuki hari kesembilan pasca banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, mulai terlihat betapa dahsyatnya dampak bencana tersebut.
Baca Juga: Bahayakan Warga, SIRA Bawa 6 Tuntutan ke Gubernur Sumsel Soal Konvoi Truk HD Muara Enim
Salah satu kejadian paling ekstrem terjadi di Desa Blang Peuria, Kecamatan Samudera, di mana sebuah rumah warga bergeser sekitar 500 meter dari lokasi asal hingga ke badan jalan.
Dalam pernyataannya, Gubernur Aceh menggambarkan kondisi kritis di lapangan akibat banjir kali ini bak Tsunamk kedua.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul adanya laporan mengenai desa-desa yang terputus total atau bahkan 'hilang' akibat diterjang air bah dan tanah longsor.
Baca Juga: Tak Ada Pergerakan Harga Emas Perhiasan Palembang Hari Ini, Stabil di Rp13,55 Juta per Suku
Empat wilayah yang secara spesifik disebut ialah Kampung Sawang, Jamboane, Bireun (Bireuen), dan Peusangan menjadi fokus perhatian utama.
Istilah "hilang entah ke mana" yang disampaikan oleh Gubernur Aceh seakan menunjukkan betapa parahnya kerusakan infrastruktur dan komunikasi, yang menyebabkan desa-desa tersebut terisolasi sepenuhnya dan sulit dijangkau.
Prioritas Pemerintah
Pembukaan akses jalur darat terdampak banjir-longsor menjadi prioritas pemerintah setempat untuk memastikan logistik segera menjangkau masyarakat.
Mualem menjelaskan seluruh personel harus memahami tugas masing-masing yakni membuka akses jalan, dan percepat pengantaran logistik.
Semakin cepat logistik sampai ke lokasi bencana, maka akan semakin cepat penanganan yang diberikan kepada mereka terdampak. (*)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









