Sumsel

Jawa hingga Kalimantan Selatan Berpotensi Alami Kekeringan Saat Puncak Kemarau

Kurnia | 31 Juli 2026, 10:00 WIB
Jawa hingga Kalimantan Selatan Berpotensi Alami Kekeringan Saat Puncak Kemarau
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan berlangsung pada Agustus hingga September.

Sejumlah wilayah di Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal, sehingga berpotensi menghadapi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta krisis air bersih.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, mengatakan wilayah yang diperkirakan paling terdampak meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi Selatan.

Curah hujan di daerah tersebut diprediksi masih rendah hingga awal Oktober sebelum memasuki musim hujan.

Menurutnya, Pulau Jawa menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus. Selain diperkirakan mengalami kemarau yang cukup panjang, kebutuhan air di wilayah ini juga sangat tinggi karena menjadi pusat aktivitas masyarakat dan sektor pertanian.

Bali dan Nusa Tenggara juga diprediksi menghadapi kondisi serupa. Kedua wilayah tersebut secara umum memang lebih rentan mengalami kekeringan saat musim kemarau, sehingga risiko kebakaran hutan dan lahan diperkirakan meningkat.

Sementara itu, di Kalimantan bagian selatan dan tengah, berkurangnya curah hujan berpotensi memicu munculnya lebih banyak titik panas yang dapat menyebabkan karhutla.

Baca Juga: Jadwal Pertandingan, Link Live Streaming dan Cara Nonton Timnas Indonesia Vs Timor Leste Piala AFF 2026

Adapun Sulawesi Selatan diperkirakan masih mengalami defisit hujan hingga September, yang berpotensi berdampak pada sektor pertanian dan ketersediaan air.

Di sisi lain, BMKG memperkirakan beberapa wilayah di bagian utara Indonesia, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan pesisir Riau, memiliki risiko kekeringan yang lebih rendah.

Wilayah tersebut diprediksi lebih cepat memasuki musim hujan karena memiliki pola iklim yang berbeda.

BMKG menjelaskan musim kemarau tahun ini masih dipengaruhi fenomena El Niño yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027.

Meski demikian, pengaruh fenomena tersebut diproyeksikan mulai melemah pada pertengahan Oktober, bersamaan dengan mulai masuknya musim hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Musim hujan diperkirakan mulai terjadi pada Oktober di wilayah barat Indonesia dan akan meluas ke berbagai daerah pada November.

BMKG mengingatkan bahwa musim kemarau berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, mulai dari menurunnya produksi pertanian akibat kekeringan, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, hingga berkurangnya ketersediaan air bersih di sejumlah daerah.

Karena itu, pemerintah daerah dan masyarakat diimbau mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, seperti menghemat penggunaan air, menjaga lahan dari potensi kebakaran, serta menyiapkan cadangan air untuk menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga akhir September.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia