Sumsel

Jangan Dianggap Sepele, 7 Makanan Ini Sebaiknya Dibatasi untuk Menekan Risiko Stroke

Kurnia | 10 Agustus 2026, 12:00 WIB
Jangan Dianggap Sepele, 7 Makanan Ini Sebaiknya Dibatasi untuk Menekan Risiko Stroke
Ilustrasi.

AKURAT.CO SUMSEL Stroke sering datang tanpa banyak peringatan. Namun, risiko penyakit yang dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian ini sebenarnya bisa ditekan dengan mengendalikan sejumlah faktor risiko, salah satunya melalui pola makan.

World Stroke Organization (WSO) menyebut sebagian besar stroke berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dikendalikan.

Tekanan darah tinggi menjadi salah satu faktor risiko terbesar, sementara pola makan tidak sehat dapat berkontribusi terhadap tekanan darah, kolesterol, berat badan, dan gangguan metabolisme.

Karena itu, persoalannya bukan semata-mata makanan apa yang harus dihapus dari menu. Yang lebih penting adalah seberapa sering makanan tertentu dikonsumsi dan bagaimana pola makan secara keseluruhan.

WSO merekomendasikan pola makan yang lebih banyak mengandung sayuran, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, ikan, dan sumber lemak sehat, sembari membatasi garam, gula tambahan, lemak jenuh, serta makanan ultra-proses.

Lantas, makanan apa saja yang sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi?

1. Makanan Tinggi Garam

Garam menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian, terutama karena asupan natrium berlebih dapat meningkatkan tekanan darah.

Padahal, tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko utama stroke. Makanan seperti mi instan, makanan ringan asin, ikan asin, makanan cepat saji, serta berbagai produk kemasan dapat menjadi sumber natrium yang cukup besar.

Mengurangi garam tidak berarti makanan harus terasa hambar. Rempah, bawang, jeruk, cabai, dan bumbu alami dapat digunakan untuk memperkuat rasa.

2. Gorengan

Gorengan memang sulit dipisahkan dari menu sehari-hari banyak orang. Namun, terlalu sering mengonsumsinya dapat membuat asupan kalori dan lemak meningkat.

Masalahnya semakin besar jika pola makan secara keseluruhan juga tinggi lemak jenuh dan rendah serat.

Baca Juga: Iran Pamer Bangkai Jet Tempur AS hingga Drone Israel, Jenderal Amerika Diam-diam Cari Jalan Keluar Perang

Sebagai pilihan, makanan bisa lebih sering dimasak dengan cara dipanggang, dikukus, direbus, atau ditumis menggunakan minyak secukupnya.

American Stroke Association juga menganjurkan membatasi lemak jenuh dan trans sebagai bagian dari pola makan untuk menjaga kesehatan pembuluh darah.

3. Daging Olahan

Sosis, nugget, ham, kornet, daging asap, dan produk daging olahan lainnya sebaiknya tidak menjadi makanan sehari-hari.

Produk tersebut dapat mengandung natrium dan lemak jenuh dalam jumlah tinggi. Jika dikonsumsi terlalu sering sebagai bagian dari pola makan yang kurang sehat, risikonya terhadap kesehatan kardiovaskular perlu diperhatikan.

American Stroke Association menyarankan untuk meminimalkan konsumsi daging olahan dan lebih memilih sumber protein seperti ikan, unggas tanpa kulit, kacang-kacangan, serta sumber protein nabati.

4. Minuman dan Makanan Tinggi Gula

Bukan hanya makanan asin yang perlu diwaspadai. Asupan gula tambahan yang berlebihan juga sebaiknya dikurangi.

Teh manis, minuman bersoda, kopi kemasan, minuman berpemanis, kue, dan berbagai makanan kemasan dapat menyumbang gula tambahan dalam jumlah besar.

Konsumsi berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan gangguan metabolisme yang menjadi bagian dari faktor risiko penyakit kardiovaskular. Karena itu, air putih dan minuman tanpa tambahan gula dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk konsumsi sehari-hari.

5. Makanan Cepat Saji

Burger, pizza, ayam goreng tepung, dan kentang goreng boleh saja dikonsumsi sesekali. Namun, menjadikannya menu rutin dapat membuat asupan natrium, kalori, dan lemak jenuh lebih sulit dikendalikan.

Pola makan yang lebih sehat justru menempatkan sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan, dan sumber protein sehat sebagai bagian penting dari menu harian.

6. Daging Merah Berlemak

Daging merah tidak harus sepenuhnya dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah jenis potongan dan jumlah konsumsinya.

Potongan daging dengan kandungan lemak jenuh tinggi sebaiknya dibatasi. Lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL pada sebagian orang, sementara kadar LDL yang tinggi berkaitan dengan penumpukan plak di pembuluh darah dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk stroke.

Pilih potongan daging yang lebih rendah lemak dan seimbangkan dengan sayuran serta sumber protein lainnya.

7. Makanan Ultra-Proses dan Bumbu Instan

Makanan ultra-proses menjadi tantangan tersendiri karena praktis dan mudah ditemukan.

Mi instan, makanan ringan, makanan siap saji, serta berbagai produk kemasan dapat mengandung kombinasi natrium, gula tambahan, dan lemak yang perlu diperhatikan.

Yang perlu diingat, MSG bukan berarti otomatis penyebab stroke. Fokus utama sebaiknya pada keseluruhan kandungan makanan, terutama jumlah natrium yang masuk ke tubuh sepanjang hari.

Membaca label nutrisi dapat membantu memilih produk dengan kandungan natrium, gula tambahan, dan lemak jenuh yang lebih rendah.

Bukan Berarti Harus Pantang Total

Mengurangi risiko stroke tidak berarti seseorang harus menghapus seluruh makanan favorit dari menu.

Kuncinya adalah pola makan secara keseluruhan. WSO merekomendasikan pola makan yang banyak mengandung buah dan sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, ikan, serta lemak sehat, dengan konsumsi daging dalam jumlah lebih kecil.

Baca Juga: Cara Ubah Data Desil Agar Jadi Penerima Bansos Agustus 2026

Selain pola makan, aktivitas fisik, berat badan, kebiasaan merokok, tekanan darah, kadar kolesterol, diabetes, dan faktor kesehatan lainnya juga berperan dalam risiko stroke.

Karena itu, perubahan kecil yang dilakukan konsisten bisa lebih berarti daripada sekadar menghindari satu jenis makanan.

Kurangi makanan tinggi garam dan gula, batasi makanan ultra-proses serta lemak jenuh, lalu perbanyak sayuran, buah, biji-bijian, dan sumber protein yang lebih sehat.

Jika memiliki hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau faktor risiko stroke lainnya, konsultasikan perubahan pola makan dengan tenaga kesehatan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia