Sumsel

Ekonomi Sumsel Stabil di Kuartal I-2026, APBN Jadi Penopang Utama di Tengah Tekanan Ekspor

Kurnia | 30 April 2026, 21:00 WIB
Ekonomi Sumsel Stabil di Kuartal I-2026, APBN Jadi Penopang Utama di Tengah Tekanan Ekspor

AKURAT.CO SUMSEL Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) hingga akhir Maret 2026 tercatat tetap kokoh dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Meski dihadapkan pada tantangan pelemahan ekspor komoditas global, instrumen fiskal ini terbukti mampu menyokong daya beli masyarakat dan investasi.

Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sumsel, Rahmadi Murwanto, mengungkapkan bahwa aktivitas ekonomi di awal tahun mulai menunjukkan penguatan yang didorong oleh konsumsi domestik.

"APBN tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah, terutama di tengah ketidakpastian global dan tekanan inflasi," ujar Rahmadi dalam keterangan resminya, Kamis (30/4/2026).

Baca Juga: Gara-gara Pesan WhatsApp 'Tak Enak', IRT di Gandus Polisikan Mantan Suami

Dari sisi pengeluaran, realisasi belanja negara di Sumsel hingga 31 Maret 2026 telah mencapai Rp9,51 triliun atau sekitar 24,92% dari total pagu anggaran.

Belanja pemerintah pusat mencatat pertumbuhan positif sebesar Rp2,91 triliun yang dipicu oleh peningkatan belanja modal serta belanja pegawai.

Namun, untuk sektor Transfer ke Daerah (TKD), terjadi sedikit perlambatan dengan realisasi sebesar Rp6,59 triliun. Penurunan ini dipengaruhi oleh penyesuaian alokasi secara nasional.

Meski demikian, dana tersebut tetap menjadi tulang punggung pelayanan publik melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Di sisi pendapatan, negara berhasil mengumpulkan Rp3,19 triliun di Sumsel. Sektor perpajakan menjadi penyumbang terbesar dengan angka mencapai Rp2,42 triliun.

Peningkatan setoran PPN dan PPh 21 menjadi indikator membaiknya geliat industri unggulan di Sumatera Selatan, khususnya di sektor kelapa sawit dan karet.

Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga mencatatkan kinerja positif sebesar Rp713,77 miliar, yang didominasi oleh layanan di bidang kesehatan serta pendidikan (BLU).

Kinerja kurang menggembirakan terlihat pada sektor kepabeanan dan cukai yang terkontraksi hingga 67,27% secara tahunan (year-on-year).

Hal ini dipicu oleh merosotnya harga patokan ekspor serta volume komoditas yang keluar dari Sumsel.

Meski neraca perdagangan Sumsel masih mencatat surplus sebesar USD 947,11 juta, angka ini mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, angka impor justru naik 20,01% yang didominasi oleh mesin dan peralatan industri.

"Peningkatan impor mesin dan peralatan seperti generator mengindikasikan adanya kenaikan aktivitas produksi dan investasi di daerah kita," tambah Rahmadi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
K
Editor
Kurnia