Hilirisasi Digenjot, Petani Karet Sumsel Justru Khawatir Bahan Baku Menipis

AKURAT.CO SUMSEL Kebijakan hilirisasi karet yang terus didorong pemerintah menuai sorotan dari kalangan petani di Sumatera Selatan.
Mereka menilai, fokus pada industri hilir justru berisiko mengabaikan persoalan utama di sektor hulu: ketersediaan bahan baku.
Dewan Pimpinan Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) mengungkapkan, kondisi perkebunan karet rakyat saat ini berada dalam fase mengkhawatirkan.
Sekretaris DPW Apkarindo Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan sebagian besar kebun karet milik petani sudah berusia tua dan tidak lagi produktif. Selain itu, tanaman juga rentan terhadap serangan hama dan penyakit.
“Kalau tidak segera dilakukan peremajaan secara masif, produksi karet akan terus menurun dan tidak mampu memenuhi kebutuhan industri,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Menurutnya, persoalan tidak berhenti di situ. Luas lahan karet di Sumsel juga terus menyusut karena banyak petani memilih beralih ke komoditas lain yang lebih menjanjikan secara ekonomi, seperti kelapa sawit.
“Petani memilih yang lebih cepat menghasilkan. Ini bukan sekadar pilihan, tapi soal bertahan hidup,” jelas Rudi.
Ia menambahkan, kondisi ekonomi yang tidak menentu membuat petani harus mengambil keputusan rasional. Jika sawit bisa dipanen dalam waktu sekitar tiga tahun, karet membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk memberikan hasil.
Baca Juga: Tergiur Untung Rp10 Juta, Warga Jakabaring Tertipu Rp100 Juta oleh Teman Sendiri
Dampaknya kini mulai dirasakan oleh industri pengolahan karet di Sumsel. Sejumlah pabrik disebut mengalami kekurangan bahan baku, bahkan kapasitas produksi tidak lagi sebanding dengan pasokan yang tersedia.
“Kalau ini terus terjadi, bukan tidak mungkin industri karet di Sumsel akan menurun drastis, bahkan bisa berhenti beroperasi,” tegasnya.
Apkarindo menilai, kondisi tersebut bertolak belakang dengan semangat hilirisasi yang tengah digencarkan. Di satu sisi industri hilir diperkuat, namun di sisi lain sektor hulu justru melemah.
Untuk itu, mereka mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah konkret, mulai dari program peremajaan kebun karet rakyat secara besar-besaran, pemberian insentif bagi petani, hingga pendampingan teknis di lapangan.
“Kami mendukung hilirisasi. Tapi harus diingat, kalau hulunya lemah, hilirnya juga tidak akan bertahan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









